Sepatah - Dua Patah Kata Tentang Bersyukur

Saat tidak memiliki uang atau harta benda yang dapat dibagikan kepada orang lain, maka berbagi cerita, pengalaman atau pengetahuan adalah salah satu alternatif. Sebab kalau kebaikan itu identik dengan yang namanya berbagi, lalu berbagi itu mensyaratkan ada uang dan harta berlebih, maka selama hidup kita tidak pernah bisa melakukan kebaikan. Ehumm, maaf! Bukan kita, tapi saya hehe.

Oleh karena itu, dalam rangka menjawab sebuah pertanyaan seorang pengguna di quora seperti berikut ini, maka saya berbagi. Yaps, berbagi pengalaman.

Image Source : Tangkapan layar pribadi

Setelah membaca novel ini saya merasakan ada yang keliru dalam bagaimana saya melihat hidup, khususnya dalam melihat kedamaian dan kebahagiaan hidup selama ini.

Kita tahu, Sang Alkemis adalah sebuah novel dengan premis utama yang bercerita tentang Santiago, seorang remaja yang di dalam mimpinya diberitahu bahwa jauh di sebuah negeri sana, di bawahnya tersimpan harta karun yang sangat melimpah.

Sebagaimana orang kebanyakan, Santiago juga tentu menginginkan harta dan kekayaan. Maka ketika dia mengalami mimpi tentang harta karun itu, dia segera bergegas mencari tahu di mana tepatnya tempat harta karun itu berada, bagaimana cara agar dia bisa ke sana, dan apa saja yang harus ia lakukan. 

Usaha - usaha ini akhirnya membuat dia dipertemukan dengan berbagai orang. Dari peramal mimpi, raja tua yang bijak, pemuda sebaya yang nanti mencuri uang miliknya, pemiliki toko, hingga nanti dengan sang Alkemis itu sendiri.

Tapi kita tahu, setelah segala usaha dan upaya yang dia lakukan dengan berbagai suka dan duka yang dia rasakan dalam menemukan harta karun yang diceritakan lewat mimpinya itu, pada akhirnya Santiago sendiri tidak mendapatkannya di sana, tapi justru di belakang gereja tua dekat rumanya sendiri di kampung halamanya.

Nah pertanyaanya adalah kenapa mimpi itu tidak mengatakan kepadanya bahwa harta itu ada di gereja tua dekat rumahnya, bukan di negeri mesir sana? Dengan begitu, Santiago tidak perlu merasakan pengalaman - pengalaman pahit yang dia alami selama menuju ke sana.

Menurut saya Paulo Coelho seolah mau menunjukan pada pembaca bahwa hidup itu tidak mudah. Karena tidak mudah, maka kita harus berani bermimpi, keluar dari zona nyaman kita saat ini, bahkan meski harus menelan rasa sakit dan penderitaan.

Tapi kita juga harus ingat, bahwa meski kita mencapai mimpi - mimpi itu, kebahagian bidup sesungguhnya tetap ada dalam diri kita sendiri. Tidak terikat dengan harta, pencapaian, orang yang kita cintai atau apapun yang sifatnya berada di luar diri kita. Itu semua bisa mati, bisa lenyap kapan saja. Tapi hati yang tenang dan damai, itulah harta sesunghuhnya.
Kita boleh mencari ke luar, kita boleh mengejar mimpi, kita boleh, menginginkan banyak hal. Tapi itu semua tidak akan membuat kita bahagia kalau hati kita tidak juga berada di sana.

Sebaliknya, bahkan sekecil apapaun harta yang kita miliki, sekecil apapun pencapaian kita, sesedrhana apapun hidup kita, tapi kalau kita menghidupi semuanya sungguh - sungguh dengan hati, itulah harta kita, itulah kebahagian kita.

Dan inilah kesalahan saya selama ini. Saya pikir bahwa kalau saya mendapatkan harta berlimpah, uang yang banyak, pencapaian yang besar, saya akan bahagia. Tapi tidak, yang ada justru saya menginginkan lagi, lagi dan lagi. Hingga setelah membaca novel ini, saya tersadarkan bahwa
Bukan seberapa besar harta, seberapa banyak uang, seberapa tinggi pencapaian, melainkan hati yang hadir pada segala yang kita miliki. 
Atau dengan kata lain, bersyukur dengan segala yang ada meski sekecil apapun nilainya.

Tentu saja masih banyak poin lain yang mungkin relate dengan kehidupan setiap pembaca. Tapi bagi saya, itulah salah satu poin yang bisa dipetik dan dibagikan dari novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho ini. Terima kasih sudah membaca
dan sampai jumpa pada cerita berikutnya.
***

Posting Komentar untuk "Sepatah - Dua Patah Kata Tentang Bersyukur"