Karena Setiap Ilmu Selalu Ada Manfaatnya

Apa artinya tombak, bambu runcing, panah, pedang dan beberapa senjata tradisional lainnya di depan senjata laras panjang, pistol, atau meriam tank dengan hulu ledak ratusan atau bahkan ribuan kilo ton?

Senjata - senjata tradisional yang digunakan para pejuang di zaman penjajahan itu sungguh tidak memiliki daya saing di dalam pertempuran, sehingga tidak heran bangsa kita dijajah ratusan tahun oleh kolonial. Meskipun kita melawan dengan habis - habisan, tetap saja tidak membuahkan apa - apa. Ya setidaknya untuk beberapa lama sebelum semangat nasionalisme muncul dan perang pun melebar melalui jalur politik hingga akhirnya kita menang dan merdeka.

Tapi pertanyaannya adalah kenapa senjata - senjata negara kolonial begitu canggih dibandingkan dengan yang kita miliki pada saat itu? Salah satu alasannya tentu adalah karena mereka menguasai ilmu pengetahuan dan dengan ilmu - ilmu itu, mereka mampu memproduksi senjata - senjata yang canggih, mempengaruhi orang lain bahkan sampai menguasai serta menjajah.

Sehingga kita tentu sepakat bahwa sampai kapanpun kita akan selalu membutuhkan ilmu, sekecil apapun itu. Bukan untuk kita lalu bisa menguasai dan menjajah orang lain atau dengan ilmu itu bisa membuat senjata yang bisa membinasakan umat manusia, tapi paling tidak itu adalah ilmu - ilmu yang membawa manfaat ke dalam kehidupan kita sendiri. 

Kita memang sudah tidak dijajah sebagaimana zaman kolonial dulu, akan tetapi penjajahan model baru menyasar siapa saja yang tidak memiliki pegangan. Dalam konteks ini saya mengacu pada ilmu.

Nah oleh karena saya terinspiasi dari situ serta konektivitasnya dengan pengalaman saya sejauh ini, maka lahirlah tullisan ini, yaitu sebuah cerita tentang bagaimana ilmu yang bahkan sekecil apapun, ternyata sangat bermanfaat bagi saya dan tentunya bagi anda juga nantinya.

Karena ternyata sekali lagi, setinggi - tingginya ilmu yang kita kuasai, sebenarnya adalah ilmu yang mampu diterapkan dan membawa manfaat, minimal untuk diri kita sendiri, menyelesaikan persoalan hidup kita sehari - hari . 

Itu menjadi salah satu keyakinan dan prinsip yang akan saya pegang sampai kapanpun. 

Buat saya, kalaulah saya tidak mampu memberikan manfaat untuk orang lain, maka minimal saya bermanfaat untuk diri saya sendiri. Sehingga dengan demikian, kecil kemungkinan bagi saya untuk merepotkan dan membebani orang lain. Setidaknya pada masa dimana saya hidup sebagai orang dewasa.

By the way, sebelumnya mohon maaf kalau dari awal sampai disini, saya terkesan congkak dan sok - sokan. Seolah - olah saya orang berilmu. Padahal mah, jangankan ilmu, belajar saja saya sangat sulit untuk melakukannya. Apa yang sering saya katakan, bukan datang dari pikiran saya, tapi saya dengar dari orang lain. 

Tapi ya begitulah, orang juga mengatakan bahwa justru kita mendapati kecerdasan kita melalui karya orang lain. Apakah itu dengan membaca, melihat dan mendengarkannya. Jadi saya merasa cukup fair untuk hal ini. Waduh, sombongnya makin menjadi - jadi.

Nah biar saya tidak makin congkak,  yuk mari kita mulai sesi cerita kita!

Jadi man - teman, saya sekarang itu  bekerja di salah satu pabrik sepeda. Lebih tepatnya adalah tempat perakitan sepeda pancal. Semua sepeda yang dirakit disini, menggunakan komponen atau spare part dari luar negeri termasuk beberapa peralatan dan mesin produksi. Saya sendiri belum genap setahun kerja disini, dan posisi saya ada di divisi velg, yaitu bagian yang mengerjakan khusus velg sepeda


Source : Dokumen Pribadi

Untuk yang di tempat saya bekerja, kami menggunakan istilah lokal ( saya menyebut lokal karena saya tidak tahu di tempat lain disebut apa ) untuk menyebut komponen - komponen ini, khususnya komponen atau spare part yang divisi saya kerjakan, diantaranya yaitu velg kosong, jari - jari velg, niple dan bos atau yang nantinya juga disebut sebagai as dari sebuah velg. Jadi komponen - komponen ini, benar - benar baru akan disatukan atau dirakit disini. 

Adapun langkah kerjanya kurang lebih seperti ini. Pertama -tama, jari - jari akan dimasukan ke dalam bos atau yang nantinya disebut sebagai as (center sebuah velg). Ujung jari - jari yang satunya ( yang memiliki drat ) akan dimasukan ke setiap lubang pada velg. Niple berfungsi untuk merekat atau menghubungkan keduanya. Nantinya, velg yang sudah dirangkai setengah jadi ini akan diteruskan ke proses selanjutnya yaitu di press di bawah mesin bertenaga hidrolik. Setelah dari sini barulah velg itu, setelah melalui tahap QC (Quality Control) siap dipasang pada sepeda. 

Inti cerita kita kali ini ada pada mesin press ini. Kami biasa hanya menyebutnya sebagai mesin press atau mesin tightening. Maaf jika menyebutnya sesederhana itu, karena saya sendiri tidak banyak tahu tentang nama mesin - mesin produksi seperti ini. Saya ambil saja  nama berdasar fungsi atau cara kerjanya.

Tapi intinya, mesin ini memiliki empat jarum yang berfungsi untuk mengencangkan jari - jari pada velg. Keempat jarum memutar niple ( yang bisa dibayangkan seperti baut pengunci ) sehingga jari - jari velg menjadi kencang alias tidak ecek - ecek.

Nah suatu ketika salah satu jarum yang berfungsi mengencangkan nepel pada velg dari mesin produksi ini, patah. Dan untuk menggantinya dengan jarum baru sangat sulit. Karena patahan itu ada di dalam soket yang nantinya bersentuhan langsung dengan motor penggerak jarum. Untuk mengganti jarum yang baru, terlebih dahulu harus mengeluarkan patahan yang ada di dalam soket. 

Namun untungnya bagi saya, ketika kejadian jarum patah ini, kepala mekanik kami tidak libur. Jadi saya serahkan problem ini ke tangan beliau. Karena memang beliaulah yang paling bertanggungjawab terhadap perawatan dan perbaikan kerusakan mesin dan alat produksi.

Meskipun terbilang sebagai orang yang berpengalaman dalam bidangnya, bukan waktu yang singkat baginya untuk menyelesaikan masalah ini. Saya mengamati, beliau cukup kewalahan karena memang tingkat kesulitan mengeluarkan patahan jarum cukup tinggi. Kalau saya bayangkan memang sudah melawan hukum fisika, dimana tidak ada lagi tuas yang bisa diputar, alhasil harus diputar menggunakan semacam jarum kecil agar patahanya keluar. Dan ini sangat sulit karena harus mengerahkan gaya atau tenaga yang besar. Hampir satu jam waktu dihabiskan untuk mengeluarkan patahan ini. 

Source : Dokumen Pribadi

Namun naas bagi saya adalah, suatu ketika pada lain hari, kejadian serupa kembali terjadi. Jarum mesin patah lagi. Dan yang membuat saya seolah mengalami peristiwa naas kuadrat adalah kepala mekanik saya tidak masuk kerja. Biasanya urusan seperti ini ditangani oleh beliau. Karena beliaunya tidak masuk hari itu, jadilah saya yang tanpa pengalaman dan tidak memiliki ilmu mekanik yang memadai harus menyelesaikan masalah ini. 

Sempat bingung dan tidak tahu bagaimana caranya, saya mencoba cara yang pernah dilakukan oleh kepala mekanik saya waktu itu. Dan hasilnya? Ya, jangankan drat mengalami pergeseran sedikit, yang ada malah tangan saya hampir tertusuk jarum yang saya gunakan untuk mengeluarkan patahan dalam soket tersebut. 

Kini saya seolah mengalami peristiwa naas pangkat tiga: jarum mesin produksi patah, kepala mekanik tidak masuk, saya tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan, dan jari saya hampir tertusuk.

Bengong sebentar, saya mulai berpikir bahwa ini akan sangat mengganggu proses produksi yang sedang berlangsung. Bisa jadi saya diomelin habis - habisan. 

Ditengah kebingungan dan keadaan yang tertekan, tiba - tiba saya dibawa pada ingatan masa 14 tahun lalu yaitu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) waktu masih duduk di bangku sekolah dasar, tentang sifat besi yang akan memuai ketika dipanaskan. Dengan segera, saya lalu pergi meminjam korek api milik teman, mengambil tang dan mulai membakar soket yang terbuat dari besi tersebut. 

Source : Dokumen Pribadi

Meski bukannya tanpa tenaga dan usaha yang sama seperti sebelumnya, saya mulai menusuk dengan jarum kecil dan memutar patahan kecil itu ke kiri. Dan ya, seperti yang Anda bayangkan, drat mulai bergeser perlahan dan lama - lama semakin ringan, dan akhirnya patahan berhasil keluar. Saya kemudian menggantinya dengan jarum yang baru dan segera memasang kembali ke dalam mesin. Dan puji Tuhan, kegiatan produksi hari itu kembali berjalan normal karena mesin kembali bisa beroperasi.

Sungguh sebuah ilmu yang barangkali bagi banyak orang adalah hal sepele dan biasa saja, tapi bagi saya yang saat itu dalam kondisi terdesak, ilmu yang sekecil itu berhasil membuat hari saya yang seharusnya buruk berlalu dengan sedikit kepuasan dan kebanggaan. Kebanggan karena saya masih mengingat ilmu yang sudah hampir usang di kepala saya, kini berhasil menyelesaikan suatu persoalan.

Terkadang kita merasa minder dan malu karena sesuatu yang kita miliki sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang dimiliki orang lain. Namun semoga dengan pengalaman saya ini, memberikan sebuah inspirasi untuk tidak lagi minder dan malu dengan apa yang kita miliki meski itu mungkin hanya secuil.

Seberapa pun sedikitnya yang kita miliki, serendah apapun level pengetahuan yang kita ketahui, tetaplah bersyukur untuk itu, kalau tidak berlebihan bolehlah sedikit berbangga sambil tetap menjaga diri untuk tidak sombong. 

Sesuatu yang kita pahami hari ini, mungkin tidak berguna, tetapi bisa sangat bermanfaat pada masa yang akan datang. Kalaupun tidak berguna bagi orang lain, minimal berguna bagi kita sendiri, menyelesaikan persoalan hidup kita sendiri. Dengan demikian kita meminimalisir untuk menjadikan diri kita beban dan merepotkan orang lain, apalagi sampai merugikan. 

Posting Komentar untuk "Karena Setiap Ilmu Selalu Ada Manfaatnya"