Pada suatu malam yang dingin, saya sedang duduk santai bersandarkan kursi di dalam kamar. Ruangannya terasa pekat dengan aroma kopi yang khas diikuti asap tebal yang mengepul secara perlahan dari sela - sela bibir, menambah remangnya cahaya yang terpancar dari bolham kecil di ruangan itu.
Dan ketika kretek mulai menyisahkan gabus serta kopi yang hanya tinggal ampas di dasar cangkir, saya hendak bergegas menuju kasur untuk tidur atau sekedar baring mendengkur memanjakan mata. Terutama lagi karena jarum jam memang sudah menunjukan pukul 23.00, waktu di mana malam sudah semakin sibuk mengantarkan setiap orang menuju dunia mimpi mereka masing - masing. Dari lolongan yang terdengar dari kejauhan, hawa yang semakin menusuk pori - pori hingga angin yang datang meniup - niupkan atap secara tidak sopan, semua dapat meninabobokan setiap insan yang lelah setelah seharian bekerja.
Dan saat akan menuju ke kasur itu, tiba - tiba sesuatu berdering dari balik ponsel. Hingga betapa kagetnya saya, seolah tidak percaya bahwa seseorang di sudut lain semesta ini menanyakan hal serupa lewat salah satu platform online. Suatu pertanyaan yang entah kapan pernah juga saya tanyakan kepada diri sendiri, di sini, di ruangan ini dan persis di tengah malam begini:
"Bagaimana kalau ternyata kamu tidak ditakdirkan untuk menikah?"
Saya terdiam. Bukan karena tidak memiliki jawaban sebagimana dulu ketika itu ditanyakan ke diri sendiri, tapi karena saya mulai sadar bahwa pertanyaan itu menyentuh satu kata yang sering saya pakai secara sembarangan, yaitu takdir. Kata yang kerap dijadikan tameng, sekaligus pelarian ketika sesuatu mulai kesulitan untuk dijelasksn. Maka sebelum menjawab soal menikah atau tidak, saya merasa perlu untuk membereskan dulu satu hal: apa sebenarnya yang dimaksud dengan takdir, setidaknya menurut pemahaman saya sendiri?
Sebab sebagaimana kebanyakan orang, pun saya merupakan orang yang percaya dengan yang namanya takdir. Ya takdir, kehendak Tuhan, faktisitas - faktisitas, atau apapun namanya, yang pada intinya merupakan sesuatu yang tidak dapat kita ubah sesuai keinginan kita bahkan meski seribu satu cara kita lakukan. Hal - hal seperti bahwa kita telah diciptakan sebagai manusia, bahwa kita terlahir sebagai perempuan atau laki - laki, atau bahwa kita kelak akan mati, saya sepakati jika itu dikatakan sebagai takdir.
Dan karena hal - hal itu sudah melekat dengan diri kita, maka kita terima dan kita jalankan, meski pada titik tertentu, entah terpicu oleh suatu alasan, kita tidak menginginkannya.
Misalnya, karena kita sadar bahwa kelak kita akan mati, kita lalu mengandai - andai atau bahkan berusaha cari cara agar kita tidak mati. Atau terdorong oleh suatu kesadaran akan suatu pengalaman hidup bahwa menjadi manusia itu susah, bahwa terlahir sebagai laki - laki atau perempuan bukan keinginan kita lalu kita membayangkan atau menginginkan kita tidak terlahir sebagaimana kita yang sekarang —manusia, laki - laki atau perempuan.
Percayalah, itu tidak akan bisa. Sebagai manusia kita akan mati, kita ditakdirkan untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi diri kia sebagai manusia —laki - laki atau perempuan. Inilah takdir, fakta - fakta yang tidak dapat dirubah bahkan meski kita menginginkannya untuk berubah. Tetap memakskan diri untuk melawan, mengurangi atau sekedar menyamarkan sesuatu dari takdirnya adalah sebuah kekeliruan, kalau bukan sebuah kesia - siaan. Ini mungkin terasa klise, easy dan mungkin basi, tapi masih banyak kok sekarang yang mencoba mengelak dari takdir hidup mereka masing - masing. Dari menolak, menyangkal hingga yang terasa biasa, menyamarkan.
Nah, lalu tapi bagaimana dengan menikah? Apakah menikah atau tidak itu ada kaitanya dengan takdir? Jawabannya bisa ya, bisa tidak.
Pertama, menikah menurut saya adalah pilihan hidup. Bahkan jika kamu ditolak ribuan wanita atau ribuan pria sekalipun, kalau kamu tetap memilih untuk menikah, kamu akan tetap menikah. Keculai jika sudah meninggal dunia kamu masih juga tidak merasakan nikmatnya menikah dan aktivitas malam pertamanya, baru boleh itu dikatakan sebagai takdir. Tapi tetap saja, itu harusnya perkataan dari orang lain yang memang mengetahui bahwa kamu selama hidupnya tidak menikah.
Atau singkatnya adalah hal - hal seperti menikah atau membujang, bodoh atau pintar, kaya atau miskin dan sederet hal serupa lain yang pada kenyataanya kamu menyandang itu semua sementara kamu masih hidup, tidak bisa dikatakan sebagai takdir, apalagi jika mengatakan bahwa itu takdir Tuhan. Menurut saya salah kaprah: kamu yang gagal, kamu yang ditolak gebetan, kamu yang malas tapi sekonyong - sekonyong bilang, "ini takdir Tuhan!"
Tai*!
Ya terkecuali (ini biar lebih spesifik), tiba - tiba kamu menjadi seperti Ajo Kawir dalam salah satu Novel karya Eka Kurniawan yang tiba - tiba saja alat kelamin-nya mengalami disfungsi ereksi yang sangat parah setelah melihat kejadian yang mengerikan terpampang di depan matanya sendiri. Alat kelamin-nya tidak bisa berdiri meski diolesi cabai rawit, digigitkan pada lebah madu bahkan sempat diancam akan dipotong pakai kapak oleh si Ajo Kawir sendiri.
Nah, kalau seperti itu ceritanya, terus sampai mati tidak bisa ngaceng, berarti otomatis tidak bisa kawin. Dan sampai di sini, terserah orang mau mengatakan bahwa memang itulah takdirnya.
Tapi kamu tahu, sebagaimana hidup yang kadang tidak bisa ditebak, sosok Ajo Kawir dalam cerita itu juga berjalan dalam satu plot twist yang epic. Heem, dia tetap menikah, meski kelamin-nya tidak bisa berdiri. Dia tetap bisa membahagiakan pasangannya meski si Joninya dibayang - bayangi akan loyo untuk selamanya, seperti mau bilang:
"Tak bisa ereksi, jari - jari bisa jadi solusi!" Anjay…
Iya tapi itu hanya sebagai contoh saja, bahwa hidup itu kompleks. Hidup itu tak terduga, dan penuh dengan misteri - misteri yang sulit terpecahkan. Jadi bersikap untuk tidak langsung jump to the conclusion adalah sebuah kebijakan yang cukup bijak. Yaps, kita mesti tahu dulu suatu persoalan, suatu kondisi, suatu keadaan apakah itu bisa diselesaikan atau dirubah. Baru setelah itu kita bisa memberinya nilai sebagai apa, kita bisa menyimpulkannya sebagai apa.
Kalau dalam pertanyaan di atas, kita akan berkesimpulan bahwa mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk menikah setelah kita melakukan segala cara dan usaha bahkan sampai kita meninggal dunia, tapi masih tetap tidak mendapat pasangan. Tapi itupun menurut saya, yang memberinya penilaian atau kesimpulan demikian adalah orang lain, bukan kita sendiri. Karena kalau kita sudah mati, apa yang mau kita bicarakan? All is over, hidup kita selesai.
Jadi kesimpulannya, jangan terlalu over thingking terhadap kehidupan dan masalah yang dihadapi. Terkadang, karena terlalu over thingking, kita jadi kehabisan energi untuk memikirkan solusi yang seharusnya memang dipikirkan ketimbang masalahnya itu sendiri. Dan ini termasuk dalam urusan jodoh.
Lagipula Squidward dari Spongebob SquarePants, kan pernah berkata:
Bahkan orang buta huruf pun menemukan jodoh mereka
Jadi, temukan jodohmu dan jangan bilang kamu tidak ditakdirkan untuk menikah, kecuali kalau kamu menginginkannya. Kan begitu?

Posting Komentar untuk "Perihal Takdir: Seandainya Kamu Tidak Ditakdirkan Untuk Menikah"