Salah satu kebijaksanaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang manusia dalam kehidupan ini adalah kemampuan dan kemauannya untuk belajar dari orang lain. Apakah itu adalah tentang belajar dari kesalahan, kegagalan, kesuksesan, atau hal apapun yang terjadi dalam kehidupan orang lain yang bisa diamati lalu dijadikan sebuah pelajaran untuk kehidupan dirinya sendiri.
Dan sayang sekali, saya yang bisa dibilang sebagai orang yang jarang bergaul karena cenderung introvert ini tidak akan mendapatkan banyak pelajaran dari kehidupan orang lain. Sebab sepakat atau tidak, sebagian pelajaran - pelajaran hidup dari mereka itu harus digali dengan menjalin suatu hubungan. Dengan begitu kita bisa mencari tahu lebih dalam dengan cara bertanya, bercerita atau mendengarkan langsung kisah hidup mereka.
Namun meski demikian, selama seperempat abad lebih menapakkan kaki di atas bumi manusia ini, bukan berarti saya tidak bisa memetik satu atau dua buah pelajaran hidup dari orang - orang di sekitar.
Mungkin sulit bagi saya untuk bergaul dan enggan membangun percakapan dengan mereka, khususnya orang - orang yang masih asing bagi saya, tapi saya masih bisa mengamati, mendengar dan lalu diam - diam menyimpulkan satu hal dari kehidupan mereka. Dan biasanya saya lakukan ini dengan bertanya sendiri di dalam hati, apa pelajaran dari kehidupan mereka yang bisa saya petik?
Dan dalam tulisan dengan tajuk cerita lansia ini, itulah yang ingin saya bagikan, berdasarkan suatu pengamatan yang cukup intens terhadap seseorang yang darinya di akhir cerita singkat ini akan saya utarakan pelajarannya. Suatu pelajaran hidup dari para lansia yang diharapkan mampu mengubah cara pandang kita terhadap kehidupan. Mari kita simak!
Jadi sebagaimana biasa, saya mempunyai satu rutinitas harian yang wajib, yaitu bekerja. Bukan pekerjaan kantoran yang layak diceritakan sebagaimana orang lain, malah bisa dibilang ini adalah suatu pekerjaan yang sangat membosankan karena menguras tenaga dan waktu yang sangat berlebih tapi dengan hasil yang tidak sebanding. Tapi karena pekerjaan ini memberi saya kehidupan, maka bagaimanapun jengkelnya saya terhadap pekerjaan ini, saya tetap bersyukur.
Nah, jarak tempat saya tinggal dengan tempat saya bekerja tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima ratus meter atau lebih, tidak sampai satu kilo. Jarak yang pendek itu lalu akhirnya menjadi semacam dukungan tersendiri terhadap adigum saya pribadi selama ini: bahwa jalan kaki itu sehat. Maka saya pun berangkat kerja dengan berjalan kaki. Padahal jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, ada satu alasan lain dengan porsi yang lebih besar yang tidak pernah saya ceritakan kepada siapapun yaitu adalah karena saya belum mampu membeli kendaraan pribadi meski sudah bertahun - tahun bekerja. Sehingga ketika ada yang iseng - iseng bertanya jalan naik apa, saya hanya menjawab dengan menyertakan adigum itu dengan diiringi embel - embel senyum kecut di muka karena malu.
Biasanya saya berangkat jam 7:30 pagi. Kadang lebih awal, atau kadang juga terlambat. Terlambat biasanya karena saya sering nego dengan alarm yang saya pasang. Kalau alarm sudah berbunyi, saya memang bangun tapi hanya untuk menyetelnya ulang lalu bangun sekitar 20 atau 30 menit lagi dan saya kembali tidur. Bangun lagi setelah itu, tentu saja sudah terlambat dari jadwal harian yang sudah ditentukan. Dan inilah yang mungkin membuat saya selamanya akan terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai 'tirani rencana', terjebak dalam ambisi rencana yang tak pernah terwujud. Ya, karena sebelum tidur, saya merenacanakan banyak hal untuk dilakukan pada pagi hari sebelum berangkat kerja. Mulai dari berolahraga, baca buku, masak sendiri daripada membeli biar lebih higienis dan ekonomis, serta rencan - rencana lain yang berdiri dengan sangat kokoh bak istana raja dalam pikiran. Saat menyusun rencana - rencana itu, saya kadang tersenyum sendiri, kagum pada itikad dan niat baik yang akan saya lakukan. Tapi begitulah, yang terjadi adalah selalu seperti di atas, bangun dan harus segera bergegas untuk berangkat karena tentu saja sudah sangat terlambat.
Tapi jam berapapun saya berangkat di pagi hari, hampir selalu saya mendapati suatu pemandangan di mana saya menyaksikan ada ibu - ibu lansia yang sedang asik berjemur di bawah mentari pagi. Ada yang ditemani cucunya - cucunya yang lucu, ada yang berjemur sendirian sambil doa dan bermeditasi lalu ada juga yang menurut dugaan saya ditemani oleh pembantunya.
Dan di antara ibu - ibu yang berjemur ria di bawah mentari pagi itu, tepatnya yang terakhir saya sebut di atas, adalah ibu Marta. Ya, tentu saja ini bukanlah nama asli, melainkan nama fiktif belaka rekaan saya sebagai pelengkap unsur cerita. Tapi nama boleh saja fiktif, namun seulas kisah yang saya angkat tentangnya ini adalah nyata perihal kehidupan senjanya. Kalau ini adalah karya seni atau sastra, apapun judulnya maka tag line pengugah seleranya adalah tetap: ...based on true story, berdasarkan kisah nyata. Sekilas, tapi bagi saya penuh makna.
Ilustrasi oleh pexels.com
Nah, berdasarkan pengamatan dan perkiraan saya pribadi, beliau ini kira - kira berumur delapan puluh atau tujuh puluhan akhir. Badannya yang kurus menampilkan warna kulit seperti sawo matang dengan lengan dan leher yang menampakan dengan sangat jelas urat - uratnya yang sudah rapuh termakan usia. Rambut keritingnya jarang diikat sehingga jatuh menjuntai sampai setengah leher. Kadang, sebagian helain - helaian rambutnya itu jatuh terkulai di samping wajahnya yang kecil lonjong seperti akar - akar pohon beringin yang menghiasi batang - batang mereka hingga menjadi rimbun.
Biasanya ia mengenakan baju kesayangannya yaitu kaus berwarna biru muda dengan rok cokelat panjang yang menyentuh kaki. Karena badanya yang kurus itu, pakian yang ia kenakan tampak longgar sehingga tulang - belulangnya yang sudah tidak lagi kuat akan tampak meranggas seperti akar bakau di sebuah tepian pantai. Saat ini beliau masih bisa berjalan, meski harus ditopang dengan sebatang tongkat.
Saya cukup intens berjumpa dengan beliau. Kadang saya jumpa ketika beliau pergi ke pasar, kadang ketika sedang jalan - jalan pagi entah ke mana, dan yang paling sering adalah menyaksikanya sedang berjemur pagi di depan pintu rumahnya.
Dan dari rumahnya yang tidak berpagar dan mepet langsung dengan jalan itu, beliau sering bertemu pandang dengan saya. Lalu karena semakin sering, sesekali beliau tersenyum. Lain kali, saya yang memulai melempar senyum dan saya akhiri dengan menundukan kepala tanda permisi hendak lewat. Kalau itu yang saya lakukan, beliau pun akan membalas dengan gerakan yang sama dengan senyum khas omah - omah usia lanjut.
Pernah suatu kali, Ibu Marta akhirnya bisa berbicara kepada saya. Waktu itu beliau bertanya saya kerja di mana, dan saya menjawab sambil lalu: "di Ploso Timur." Dan selang beberapa langkah darinya, saya mengutuk diri sendiri telah menjadi introvert akut yang sungkan bergaul. Sial! Paling tidak saya seharusnya bisa berhenti sejenak, melebebarkan obrolan dengan bertanya nama, usia dan hidup dengan siapa sekarang. Sehingga lain kali kami bisa lebih akrab lagi satu sama lain dan tidak lagi kaku saat bertemu di jalan.
Namun selain daripada senyum sapa dengan mimik wajah serta obrolan singakat itu, tidak ada lagi pembicaraan lain dengan beliau bahkan meski saya masih sering lewat di depan rumahnya.
Hingga suatu hari, ketika saya pulang dari kerja, saya sengaja melambatkan langkah di depan rumah Ibu Marta ini. Dari pintu rumahnya yang terbuat dari kayu bercat biru tua, saya mendengar sahut - menyahut teriakan dari mulut dua orang. Salah satu suaranya saya kenali sekali sebagai milik Ibu Marta. Nada - nadanya terdengar marah, namun saya rasakan ada satu bentuk kepasrahan di balik kemarahannya itu. Dalam bahasa Jawa ia berkata:
"Awakmu kok jahat banget toh Sur mbek aku? Aku iku mek takon, iku mau sampean masak apa? Kok yo jawabane sampean kasar nemen?"
Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih begini:
"Kamu kok jahat sekali toh Sur sama saya? Saya itu cuma tanya, tadi itu kamu masak apa? Kok jawabanmu kasar sekali?"
Sepertinya beliau sedang bertengkar dengan pembantunya yang sering saya lihat. Dan jika dilihat dari wajah, pembantunya memang merupakan orang yang judes, tidak ramah dan suka emosi. Tidak tahu apa sebab, yang jelas saya sangat prihatin dengan ibu Marta yang kurus ringkih itu.
Pernah di lain hari, ketika saya pulang kerja, saya mendengar beliau bertanya kepada pembantunya itu tentang jam berapa sekarang. Dan kebetulan sekali, waktu itu mereka sedang duduk berdua di depan pintu rumah Ibu marta.
Dengan mimik wajah judes dan raut muka penuh ketidakpedulian yang teramat sangat, pembantunya menjawab dengan nada yang malas, seolah dengan mengeluarkan satu dua buah kata - kata dari bibirnya yang saya saksikan tidak proporsional itu, lalu akan membuatnya mengalami kerugian yang sangat besar saat menjawab pertanyaan Ibu Marta. Sambil menggigit buah - buahan kecil dari piringnya, dengan sangat tidak ramah dia menjawab singkat: "Jam lima empat puluh!!." Lalu gigitan - gigitan dari buah - buahan itu disemburkannya ke depan dan menghasilkan suara - suara yang serak bernada beringas. Menananggapi itu, Ibu marta hanya menatap kosong ke depan. Dari wajahnya saya dapati tatapan kerinduan. Mungkin ia rindu akan hadirnya seseorang yang benar - benar tulus dan ikhlas untuk mengisi kesepian dan kesulitan yang dihadapinya saat itu. Bukan malah wajah - wajah kasar beringas yang jutek dan penuh ketidakpedulian.
Nun jauh di ujung gang sebelah sana, di hari lain saya lewat, para ibu - ibu lansia yang lain begitu bahagia dengan cucu - cucu mereka. Sesekali anak - anak mereka yang laki - laki akan mendorng kursi roda yang mereka duduki ke arah matahari yang lebih terang. Lain kali, beberapa di antara mereka juga akan di suapi bubur, teh hangat dan beberapa jajanan yang cukup kompatible dengan perut para lansia. Sementara itu pundak - pundak mereka akan dipijat - pijat ringan dan manja. Mungkin oleh menantunya atau mungkin itu adalah anak - anaknya yang perempuan.
Dan di antara banyak kebahagiaan masa tua yang memang seharusnya dialami dan dinikmati oleh para lansia sebagaimana yang dirasakan oleh para lansia lain di gang itu, saya tidak mendapati satupun dalam diri Ibu Marta kebahagiaan yang serupa, setidaknya tidak pernah saya saksikan setiap kali saya melihatnya. Justru sebaliknya, ia dimarahi, kadang dibentak dan kadang diperlakukan dengan sangat tidak sopan. Siapa yang dapat memastikan bahwa ketika malam datang menjelang, tidak ada kekerasan fisik yang akan beliau alami? Saya tidak tahu.
Refleksi
Saya tidak membela Ibu marta, karena walau bagaimanapun hati kecil saya berkecamuk ketika menyaksikan pengalaman yang beliau alami, saya toh tetap mampu bersikap rasional, setidaknya rasional menurut saya sendiri yang masih terbatas dalam memahami seluk beluk kehidupan manusia. Dan meski harus dengan menundukan kepala, saya mampu berkata dalam hati bahwa bagaimanapun, saya tidak benar - benar tahu seutuhnya kehidupan beliau terutama relasinya dengan orang lain dan si pembantu yang menemaninya.
Sebab bagaimanpun, satu pengalaman yang kita saksikan dari kebidupan orang lain hanyalah potongan puzzle dari keseluruhan hidup yang mereka jalani. Berkesimpulan terhadap kehidupan yang utuh dan kompleks hanya dari satu puzzle yang tampak itu adalah suatu kecerobohan meski potongan itu berisi pengalaman pahit, kesedihan yang mendalam atau suatu penderitaan sebagaimana yang saya saksikan sepintas dari relasi Ibu Marta dan pembantunya.
Tapi semoga kita sepakat akan suatu hal bahwa sebenarnya apa sih yang diharapkan seseorang ketika ia berada pada usianya yang senja? Tentu saja bukan makanan enak, jam tangan yang mahal, rumah bak istana atau deretan kendaraan yang mewah. Bukan pula kemolekan, lekukan tubuh yang indah seperti semasa belia, kulit bening berwajah glowing yang seolah tak termakan usia atau ketangkasan di atas ranjang yang selalu menang dengan angkuh melawan waktu (red: tahan lama). Tapi apa yang dibutuhkan seseorang pada usia senja adalah perhatian yang tulus, pemberian diri yang ikhlas, kasih sayang, dan kepedulian yang tiada tara dari orang lain. Hal - hal ini tidak mungkin dapat digadiakan dengan emas permata dan intan berlian di pegadaian manapun.
Dan saya pikir, tulah yang saat ini didambakan oleh Ibu Marta. Ia rindu akan ketulusan, kepedulian dan kasih sayang dari orang lain. Tapi hingga kini, yang ia dapatkan hanyalah kesedihan, sikap yang acuh - tak acuh, dan pemberian yang bersifat transaksional antara dia dan pembantunya.
Kita sendiri suatu saat nanti pasti akan menua namun saat masih muda, kita justru jarang memikirkan hal - hal yang mutlak akan kita alami ketika usia sudah memasuki masa senja.
Hal ini terutama karena ketika masih muda, kita bisa melakukan segala sesuatunya tanpa bantuan orang lain. Ketika lapar, kita bisa masak sendiri. Ketika ingin menonton dan jalan - jalan di akhir pekan, kita akan melakukannya sendiri. Bahkan ketika terdesak oleh suatu keinginan yang bersifat sangat "pribadi", maka kita bisa melakukanya sendiri! Maaf, semoga dapat dipahami apa yang saya maksud dengan "pribadi".
Kita berpikir bahwa kita bisa melakukan segala sesuatu dalam kehidupan ini tanpa bantuan orang lain selamanya sampai kita mati. Bahkan terkadang kita juga mengikuti dan menganut suatu pendapat umum bahwa manusia itu terlahir sendiri, mati juga sendiri. Maka bukan masalah kalau saat ini kita hidup sendiri, melakukan segala sesuatunya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Namun yang kadang kita lupa adalah bahwa kita bisa saja tidak mati begitu saja secara mendadak, melainkan terlebih dahulu melewati suatu proses. Proses - proses itu yang paling umum adalah sakit dan penuaan.
Di saat kita sakit dan menua seperti itulah, kita tidak bisa melakukan apa - apa. Banyak hal yang tidak lagi bisa kita lakukan sendiri, bahkan seperti Ibu Marta, hanya untuk mengetahui jam berapa sekarang kita membutuhkan orang lain.
Sehingga dari beliau saya sadar akan suatu hal, bahwa bagaimanapun kuat dan tangguhnya seseorang, bagaimanapun kokoh idealisme yang ia pegang dalam kesendiriannya, pada hari tua nanti, ia akan kembali seperti bayi: tidak bisa hidup tanpa orang lain. Atau kalapun hidup, ia tak lebih seperti Ibu Marta, sedikipun tidak merasa bahagia. Apalagi orang yang bersamanya itu adalah suatu pribadi yang tidak benar - benar mencintainya, melainkan hanya untuk suatu hal seperti sang pembantu yang ada di samping Ibu Marta.
Dan sampai di sini, saya jadi teringat dengan suatu pengalaman haru yang pernah saya alami pada masa lalu di mana ketika itu, seseorang pernah datang dalam kehidupan saya. Ia datang bukan sambil menggendong istana atau menggenggam harta benda, tapi ia datang dengan penuh cinta. Sebuah cinta yang paling tulus yang pernah saya rasakan. Ibarat kata, kalau sekarang saya misalnya ragu bahwa seseorang itu benar - benar mencintai saya, dulu, percayalah, pernah ada seseorang yang begitu ragu, cemas, dan takut kalau - kalau saya tidak mencintainya.
Tapi lucunya, waktu itu saya malah angkuh dan merasa seperti artis korea yang tampan rupawan. Saya ingin kekurangan yang saya miliki diterima, tapi sulit menerima apa yang menjadi kekurangan dia. Jadilah saya menyia - nyiakan cintanya sambil berharap suatu saat akan saya temukan lagi orang seperti itu.
Tapi seperti kata orang, kita tidak akan pernah menemukan orang yang sama dua kali. Hingga sampai saat ini, ke manapun saya pergi sulit saya temukan lagi orang dengan cinta semacam itu bahkan meski dari orang yang padanya saya tawarkan cinta serupa.
Saya tahu bahwa itu adalah cinta monyet khas bocah - bocah remaja. Tapi itulah pengalaman cinta yang paling berkesan selama saya hidup. Kalau meminjam istilah - istilah penulis kesayangan saya, cintanya sangat teduh, dengan pribadinya yang begitu suci dalam kepolosan, mulia dalam kesahajaan dan begitu bermartabat dalam kesederhanaanya --hal - hal yang baru saya sadari belakangan dengan penyesalan mendalam karena telah menyia - nyiakannya. Maka di manapun dia sekarang berada, semoga semesta menganugerahkan kepadanya segala yang terbaik.
Dengan ini, tentu saja saya tidak bermaksud untuk menuduh bahwa kesendirian dan kesepian hari tua Ibu Marta disebabkan mungkin saja karena beliau pernah menelantarkan seseorang yang pernah mencintainya dengan tulus sebagaimana yang pernah saya lakukan. Atau bukan juga saya menduga bahwa sejak muda, entah karena suatu alasan beliau memilih untuk hidup sendiri hingga akhir hayat. Dan itu beliau lakukan dengan tekad, kemauan dan alasan - alasan yang logis yang ia teguhkan sejak masih muda hingga jadilah sampai sekarang beliau hidup sendiri dalam ratapan tangisan dan kesedihan. Bisa saja sebenarnya beliau saat ini punya anak, atau mungkin saja suaminya masih hidup. Tapi kenyataan bahwa beliau begitu sedih dan tampak menderita dalam kesendiriannya di hari tuanya, adalah sudut pandang yang lain jika duga sangka penyebabnya adalah karena pernah menyia - nyiakan seseorang, pendirian yang teguh atau karena idealismenya yang tinggi terhadap kehidupan.
Sehingga saya boleh membenarkan diri untuk berkata bahwa ketika masih muda, jangan pernah sia - siakan mereka yang mencintai dengan tulus, yang siap menerima segala kekurangan, yang memeberi perhatian penuh, dan yang iklhas akan keberadaan kita di samping mereka. Karena bagaimanapun, tidak semua orang iklhas dan tulus berada di sekitar kita. Sebagian mungkin seperti pembantu Ibu Marta, menemani karena suatu hal: memberi untuk menerima. Kalau sudah seperti itu, maka dapat dipastikan tidak ada ketulusan dan keikhlasan di sana.
Dan ketika ketulusan dan keikhlasan hilang dari hati seseorang, rasanya sangat sulit untuk mengatakan bahwa orang yang berada di dekatnya akan bahagia dengan segala yang dia lakukan. Dan itulah yang saya lihat dan saksikan dalam kehidupan Ibu Marta. Hubungannya dengan sang pembantu tidak berdiri di atas dasar cinta, kasih dan perhatian yang tulus ikhlas, melainkan hanya suatu hubungan transaksional dengan kalkulasi untung rugi yang amat presisi. Maka tak heran, pada hari tuanya, Ibu Marta tidak mendapatkan satupun kebahagiaan sebagaimana para lansia yang ada di sekitarnya. Padahal dia tentu sangat mendambakan itu.
***

Posting Komentar untuk "Ibu Marta dan Kebahagiaan Hari Tua yang Tak Pernah Dimilikinya"