Ketika ada orang menyenggolmu di jalan, kamu nyambat dan memaki - maki. Ketika ada teman di tempat kerja membuatmu tersinggung, kamu marah dan maki - maki. Ketika ada orang lain merugikanmu dengan segala cara, kamu marah, lagi dan lagi kamu maki dan mengutuk mereka. Dan yaps, begitu mudah bagimu membenci sesama bahkan hanya karena perkara yang sederhana. Disenggol sedikit, dibuat tersinggung sedikit, dirugikan sedikit, kamu marah, kamu maki - maki lalu membenci mereka.
"Hidup itu kejam, orang - orang selalu berperilaku kasar dan Tuhan betapa tidak adil terhadapku." Katamu akhirnya pada suatu sore yang dingin sembari melepas lelah setelah seharian bekerja untuk gaji yang hanya pas sampai waktu gajian berikutnya tiba.
"Hasil tidak seberapa, lelahnya banyak rupa. Orang - orang pada toxic, pekerjaannya berat, bosnya pelit. Memang anj*ng!!" Sekali lagi sambat itu keluar dari sela - sela bibirmu --semakin keras, semakin kasar. Sementara kedua tanganmu bergerak tak jelas menggaruk kepala, pinggang, lengan dan kamu mulai melompat kecil.
"Ada yang gatal di sana? Oh tidak, hanya hati kecilnya yang tampak sedang risau." Seseorang di balik tembok berbisik kecil pada temannya yang sedari tadi memperhatikan sikapmu.
Tapi tunggu! Sebelum kamu akhirnya berteriak "hukk, hakk, hukk, hakk," dan orang - orang yang memperhatikanmu akan berkata, "lihat, dia telah menjadi mon*et," mulailah bertanya sesuatu ke diri sendiri.
Apakah hidup memang sekejam itu? Apakah Tuhan setidak adil itu? Dan apakah orang - orang memang sebegitu kasarnya terhadapmu? Atau masalah sebenarnya ada di kamu yang semudah itu marah, semudah itu tersinggung dan semudah itu membenci? Tidak adakah solusi lain selain racun hati yang demikian hebat semacam itu: mengeluh, marah, membenci bahkan sampai mengutuk Tuhan segala?
Image Source : www.pexels.com
Ya, kita mudah marah, kita mudah mengeluh, mudah membenci, mudah maki - maki, sebab memang itu adalah hal - hal yang paling mudah untuk dilakukan. Begitulah cara dan skenario dunia dan kehidupan ini bekerja. Solusi lain memang ada, tapi itu sangat berat untuk dijalani, dan begitu pahit untuk dirasakan.
Rene Decrates dalam sebuah tulisan pernah berkata:
It is easy to hate and it is difficult to love. This is how the hole scheme of things works. All good things are difficult to achieve; and bad things are very easy to get." --Membenci itu mudah dan mencintai itu susah. Seperti inilah semua skenario berjalan. Segala yang baik susah diraih; dan segala yang jelek itu mudah didapat.
Tidak perlu proses ketika kita membenci seseorang, membenci hidup atau membenci suatu keadaan. Pemicu ditekan, dikirim ke otak, dan duar...Kebencian meledak. Dari membenci satu orang, kemudian dua orang, lalu kebencian itu menyebar, hingga seluruh dunia dan semesta akhirnya kita benci. Bahkan Tuhan juga mungkin akan kita gugat dan kita anggap sebagai penyebab utama dari segala kemalangan yang kita terima.
Dari membencinya yang hanya hari ini karena satu moment penyebab, hingga kebencian itu menjadi lumrah --terjadi setiap saat, bahkan tanpa ada alasan, terjadi begitu saja, membenci orang lain tanpa sebab.
Tapi mencintai? Itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan karena ada proses di sana. Kita harus belajar terlebih dahulu untuk mengenal dan mengetahui setiap karakter orang. Kita harus paham situasi di sekitar kita, untuk mengambil sikap yang tepat dalam bereaksi. Dan semua ini menuntut kita untuk sabar terhadap semuanya. Proses - proses ini sangatlah sulit, tidak pernah mudah, dan tidak akan mudah dilakukan apalagi oleh orang - orang yang pesimis dalam melihat dunia dan kehidupan.
Tapi kau tahu, di antara sekian banyak orang pesimis dan ragu dalam menatap dunia dan kehidupan itu, ada sederet orang yang tetap optimis dan peracaya diri. Dan percayalah, mereka akan selalu menang dalam segala hal, bahkan ketika itu sangat sulit untuk dilakukan.
Bagi mereka, mencintai orang lain, mungkin awalnya sulit, prosesnya juga tidak mudah. Tapi pada akhirnya ada kenikmatan besar di sana. Orang juga pada akhirnya akan balik mencintai mereka, kalau mereka mau mencintai orang lain.
Atau jika memang tidak kunjung balik dicintai, mereka akan tahu bahwa memang begitulah hidup, begitulah dunia bekerja --tidak semua orang berkewajiban membalas setiap cinta dan tidak ada alasan agar setiap kebaikan dibalas juga dengan kebaikan.
Pun demikian halnya dengan kegagalan, kesedihan atau bahkan kesepian. Orang yang optimis dan percaya diri, akan selalu menemukan cahaya bahkan ketika dunianya gelap. Mungkin hidup mereka dipenuhi dengan kegagalan, pengalaman mereka mungkin diwarnai berbagai jenis penolakan dan hati mereka mungkin kerap dilanda rasa sepi.
Tapi mereka mampu untuk tetap bertahan, mampu untuk tetap melangkah dan selalu bersikap tenang dalam setiap situasi dan kondisi. Mereka menatap hidup penuh dengan keyakinan, hingga akhirnya satu kebenaran akan mereka temukan:
satu keberhasilan kecil, akan menutup seribu kegagalan yang pernah ada. Satu kesadaran kecil akan mengubah setiap kesedihan. Dan penerimaan diri atas segala takdir yang mereka terima, merupakan bentuk cinta paling tulus yang tidak akan pernah datang dari pihak manapun di luar diri mereka.
Sementara orang - orang yang pesimis dan tidak percaya diri, akan selalu melakukan yang sebaliknya. Walau bagaimanapun mereka diyakinkan, entah oleh nasihat, entah oleh nasib yang mereka terima, yang sebenarnya adalah cara semesta mendidik mereka, watak membenci itu akan selalu melekat dalam diri mereka.
Kemalasan akan tetap mengikuti langkah mereka, dan tatapan buram terhadap dunia akan terus mereka gunakan. Dunia akan tetap mereka kutuk, Tuhan akan selalu mereka gugat dan sesama manusia akan selalu menjadi tempat mereka melempiaskan kemarahan.
Dan kamu, mulai hari ini, akan memilih jadi bagian dari siapa? Apakah kamu akan memilih jadi pembenci dan duduk bersama mereka yang ragu dan pesismis dalam melihat dunia karena merasa dunia dan kehidupan tidak berpihak kepadamu? Atau kamu memilih menjadi bagian dari orang - orang optimis dan percaya diri --pecinta kehidupan dan memilih tetap mencintai sesama walau terkadang melewati proses yang sulit dan menyakitkan?
Jika kamu memilih yang pertama, tidak masalah, itu pilihan. Dan hidup memang selalu tentang memilih. Tapi jika kamu memilih yang kedua, menjadi orang yang optimis, mencintai kehidupan bagaimanapun bentuknya, maka percayalah:
hidup sebenarnya tidak seburuk apa yang kita pikirkan, tidak selamanya pahit seperti kegagalan yang kita alami. Tetap ada saat indah, tetap ada hasil manis yang menanti kita di suatu moment kehidupan. Hanya saja kita perlu sabar, optimis, percaya diri dan tetap bersyukur.
"An optimist may see a light where there is none, but why must the pesimist always run to blow it out."
Begitu kata Rene Decrates. Maka jadilah bagian dari mereka yang optimis dan percaya diri. Karena seorang yang optimis dan percaya diri mampu melihat cahaya dalam kegelapan bahkan mungkin sebenarnya cahaya itu tidak ada. Tetapi mereka yang ragu dan pesimis akan selalu berusaha memadamkan cahaya.
Kesabaran, keikhlasan dan cinta yang tulus terhadap dunia dan sesama adalah setitik cahaya yang bisa menerangi gelapnya kehidupan oleh cerita pedih yang selalu membayangi kita. Bersikap tenang, bergerak perlahan dan tetaplah bersyukur.
***

Posting Komentar untuk "Menjadi Orang yang Optimis, Menjadi Pecinta Kehidupan"