Jika ada kehilangan yang lebih besar, maka itu adalah aku kehilangan dirimu. Jika ada luka yang mengundang lara, maka itu adalah luka yang pernah kau gores. Dan jika ada pengalaman yang paling getir, maka itu adalah pengalaman kala kita bersama --singkat tapi cukup membuat hati terluka dan hidup terasa menderita.
Tapi aku, tak akan menyebut semua ini kehilangan, lara ataupun kegetiran, sebab bahkan seulas senyum yang kala itu terukir indah tanpa sengaja di bibirmu, akan tetap aku simpan dalam lubuk hati yang paling dalam.
Aku tahu, mungkin itu adalah senyum yang tersisa dari dia yang telah kau lalui dengan penuh kecewa, atau barangkali adalah sebuah senyum yang kau siapkan untuk seseorang yang akan datang, yang kau bahkan belum tahu siapa. Tapi naas, aku telah menafsirkannya bahwa itu pasti untukku, dan aku salah. Bibir yang sama, yang pernah mengukir senyum indah sejuta makna, juga telah menggoreskan luka lewat sebuah frasa: "maaf, kita tak bisa selamanya bersama," memberiku vonis kejam untuk tak lagi suka menerka - nerka di masa yang akan datang. Dan untuk tidak menunggu kalau itu tanpa kepastian, sebab begitu ada kepastian, harus siap terluka oleh pahitnya kenyataan.
Tapi tak apa, senyum itu akan tetap kubiarkan bak pusaka yang tak akan pernah terlekang oleh apapun. Hingga kelak, ketika senyum itu entah kenapa menyeruak dan minta penjelasan, akan kuceritakan pada dunia bahwa aku pernah memiliki cinta yang sebesar gemunung,luas memenuhi seluruh lautan dan dalam menyentuh dasar samudra raya, dan bahwa itu jatuh dan habis tak tersisa pada dirimu. Ya, dirimu yang bahkan kini tak bisa kurengkuh.
Maka barangkali, kata 'terima kasih' tak sepenuhnya dapat dianggap sebagai alibi apalagi untuk dikatakan sebagai sebuah anomali. Sebab memang, aku tak menaruh dendam apalagi benci terhadap sebuah hubungan yang sepintas lalu ini. Aku toh bahagia, sebab kau telah hadir meski itu hanya sebentar, namun kau telah menerima meski akhirnya kita tak bisa bersama.
Ragamu mungkin tak sempat kudekap, tapi bersamamu aku pernah membayangkan segala hal: masa depan yang cerah bak langit tanpa mendung, indah laksana malam yang penuh bintang, tanpa kekurangan sesuatupun sebab kita yakin, cinta telah melengkapi segalanya. Tapi yang nyata, itu semua berakhir hanya sebagai angan - angan dalam pikiran.
Maka jika kelak akhirnya kau temukan seseorang yang lebih baik, berbahagialah! Sebab itu telah menjadi intensi yang selalu kulantunkan dalam setiap doa, menjadi pesan yang selalu kutitipkan pada desiran angin malam yang ia bawa entah kemana, dan adalah tema dalam setiap nyanyian kala rindu datang mencekam. Tapi kau tahu, hidup kadang tak selalu sesuai rencana dan Tuhan mungkin menutup telinga untuk nyanyian jiwa dari seorang pria seribu cela.
Hingga kalau akhirnya yang dititpkan padamu tak sesuai yang kita harapkan bersama, semoga kau tetap berbangga. Sebab walau bagaimana, kau pernah singgah di sini, dalam diri seorang pria yang pernah berharap dengan sungguh dan siap menerima dengan penuh cinta.
Lalu aku? Ah, kuharap kau tak merisaukan. Apalah artinya diri ini, seorang pria dengan seribu cela. Meski cinta akan selalu kugenggam, kemana saja kaki ini melangkah dunia akan menyertainya dengan tepukan dan sorakan hina.
Dan seribu maaf tak lupa pula kuselipkan jika sempat membuatmu terluka. Aku berharap, semua ini bukan hanya menjadi pelajaran untukku, tapi juga untukmu: bahwa terkadang cinta tak selamanya begitu kuat. Segunung cinta yang kau bawa, bukanlah apa - apa jika yang menyambutmu tidak dengan cinta yang sama. Cinta begitu tak berdaya di hadapan ribuan pandang mata yang selalu mendambakan status mulia. Mulia dalam suatu keadaan yang tak seorang insan dapat merubah, alih - alih dalam bentuk tutur dan laku nyata. Tapi memang begitulah, kita harus bisa menerima semuanya tanpa perlu banyak bertanya.

Posting Komentar untuk "Litani Lara Pria Seribu Cela: Untuk Seseorang yang Pernah Singgah"