Saat Hasrat Menyamar Menjadi Cinta: Sebuah Kutipan yang Paling Berkesan dalam Novel Cantik Itu Luka

Ada satu kutipan dari novel Cantik Itu Luka yang sangat berkesan dalam benak saya. Entah karena kekuatan kalimatnya yang terasa begitu related dengan pengalaman pribadi, saya kurang tahu pasti. Tapi yang jelas kutipannya sangat menarik.

Dan ini juga sekaligus dalam rangka menjawab satu pertanyaan seseorang dalam satu platform: apa kutipan terbaik yang kamu temukan dari novel yang kamu baca? 

(Berarti essay ini juga saya tulis di sana. Ehemm, tulis di mana - mana. Tapi tidak masalah lah ya, biar seperti lagu: di mana - mana hatiku senang, hehe).

Nah, saat pertama melihat pertanyaan itu, tadinya saya mau menulis kutipan yang lain, tapi karena korelasinya dengan pengalaman pribadi masih segar dalam ingatan, maka kalimat atau kutipan inilah yang saya bagikan. Kurang lebih bunyinya begini:

Ada dua jenis perempuan yang bisa dicintai oleh seorang lelaki: pertama perempuan yang dicintai untuk disayangi. Kedua perempuan yang dicintai untuk disetubuhi. Krisan merasa memiliki keduanya."

Kamu bisa mencari tahu sendiri konteks ketika kalimat itu mulai muncul dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, tepatnya ketika cerita sudah masuk pada bagian tokoh bernama Krisan. Tapi di sini saya hanya mau sedikit sharing bahwa menurut saya, tokoh bernama Krisan dalam novel itu tidak lain merupakan representasi dari (kalau bukan semua), setidaknya sebagian dari kita, kaum lelaki di seluruh dunia. 

Memang agak tabu dan canggung untuk dibicarakan, tapi kenyataannya adalah seringkali seorang lelaki mendekati seorang perempuan tidak bisa dilepaskan dari dorongan biologis. Atau secara lebih kasar, didorong oleh nafsu berahi, tapi kemudian mengatasnamakan cinta. Dan kebanyakan lelaki, dia akui atau tidak, itulah salah satu pendorong terselubung dalam hatinya ketika mengejar seorang perempuan.

Dan sebagaimana kebanyakan lelaki, saya pun pernah ada di posisi itu. Saya mengejar seorang perempuan dan mengatakan kepadanya bahwa apa yang ada dalam hati saya ini adalah murni cinta, sejatinya cinta. Saya bahkan dengan pongahnya mengatakan bahwa saya tulus, ikhlas, dan karena itu kadang merasa berhak memaksa perasaan si perempuan.

Dan ketika nasib tidak berpihak kepada saya—meski telah sumpah serapah terkait bagaimana murninya niat saya, bahwa ini cinta sejati, cinta yang tulus dan ikhlas—tetap saja saya ditolak. Dan saya merasakan sakitnya menanggung apa yang saya anggap sebagai cinta itu. Makan rasanya tidak enak, tidur tidak nyenyak. Saya merasa harapan saya dipatahkan begitu saja.

Tapi tunggu! Sebagaimana saya, sebelum kamu juga suatu saat mengalami hal serupa lalu jatuh tersiksa akibat apa yang kamu anggap sebagai cinta, harapan, ketulusan, atau keikhlasan itu, kamu perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ini memang cinta sejati, cinta yang murni dan tulus ikhlas, atau hanya sekadar dorongan hasrat biologis belaka?

Karena kadang kita sendiri keliru menamai sesuatu. Kita menyebutnya cinta, padahal sebenarnya hanya keinginan untuk memiliki. Kita menyebutnya ketulusan, padahal sebenarnya hanya keinginan untuk memuaskan diri.

Jika itu cinta, tidak selayaknya ia membuat kamu sakit, tersiksa, atau terbelenggu oleh ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Tapi jika itu yang kamu rasakan, maka mulailah bertanya kembali. Jangan sampai apa yang kamu sebut cinta itu hanyalah pembalut dari dorongan kepuasan berahi dan pemenuhan kebutuhan biologis manusia semata.

Hidup memang kadang sulit membedakan antara cinta dan hasrat, sobat! Apalagi jika kau dihadapkan pada pilihan yang sama-sama menggoda.

Tokoh Krisan dalam novel itu dihadapkan pada dua wanita cantik yang begitu menggoda dan menggugah seleranya sebagai seorang pria. Tapi dia memilih mencintai yang satu, lalu melampiaskan hasrat pada yang lain. Dan tragisnya, gadis yang dia jadikan sebagai tempat pelampiasan nafsu berahinya itu percaya begitu saja pada kata-kata Krisan bahwa dia mencintainya, tanpa pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir menyedihkan di tangan Krisan sendiri. 

Aneh? Kok bisa? Gak masuk akal? Tak dapat dipercaya? Yaps, di situlah letak ironisnya.

Sehingga jelas bahwa kutipan di atas bagi saya merupakan pesan yang cukup mendalam bagi siapa saja. Bukan hanya bagi para lelaki yang kerap mengagungkan cinta --yang dengan cinta pula membalut niat busuk mereka dalam memenuhi kebutuhan biologis dan melampiaskan berahi. Tapi juga bagi para perempuan agar tidak begitu mudah percaya pada perkataan dan janji-janji lelaki.

Karena, kau tahu, tidak semua perempuan benar-benar dicintai untuk disayangi. Ada juga yang hanya dicintai untuk disetubuhi. Dan ketika persetubuhan itu tidak lagi memberikan suatu kenikmatan pada seorang lelaki, bersiaplah untuk ditinggalkan, dibuang dan diterlantarkan. Sebuah kenyataan yang pahit untuk diterima tapi begitulah separuh kehidupan di dunia ini bekerja.

Sehingga kadang-kadang kau harus berani mengupas semua sumpah serapah seorang lelaki, mencari tahu apa niat terselubung di balik kata-kata manisnya tentang cinta. Sebab tidak semua kata "aku mencintaimu" lahir dari hati yang tulus.

Image Source : Designed by AI

Pada akhirnya, cinta yang benar-benar cinta tidak hanya ingin memiliki tubuh seseorang, tetapi juga ingin menjaga hidupnya, martabatnya, dan masa depannya. Dan ketika itu tidak dipercayakannya kepada kamu, sesuatu yang selama ini kau sebut sebagai 'cinta' di dalam hatimu, seharusnya tidak memberontak dan membuatmu sakit bahkan menderita. Namun jika itu yang terjadi maka kau harus bertanya, apakah ini murni cinta atau hanya urusan hasrat belaka?

Stay safe dan tetap semangat melanjutkan hidup.

Posting Komentar untuk "Saat Hasrat Menyamar Menjadi Cinta: Sebuah Kutipan yang Paling Berkesan dalam Novel Cantik Itu Luka"