Morgan Housel, The Psychology of Money: Pelajaran Abadi Tentang Kekayaan, Ketamakan dan Kebahagiaan

"Uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang," adalah sebuah ungkapan yang tidak jarang kita dengar saat berurusan dengan uang. Yaps, dari pemenuhan kebutuhan masak milik emak di dapur, hingga kelancaran administrasi di meja birokrasi, tak sedikit melibatkan uang. 

Dari tangisan anak kecil yang mendadak reda, hingga senyum sumringah sang kekasih karena ternyata doi tak hanya diberi bunga, cokelat dan eskrim pada hari valentine, tapi juga intan, emas dan permata, tak sedikit dipengaruhi dan melibatkan uang. 

Ada uang abang disayang, tak ada uang abang dibuang. Aih, naas..!

Gambar sebagai ilustrasi, sumber: Pexels.com

Well, mungkin, sebagian dari kita tidak setuju dengan narasi - narasi di atas. Alasannya, barangkali sesederhana karena itu akan membuat kita tampak terlalu mendewa - dewakan uang.

Namun, terlepas dari urusan sepakat atau tidak, harus diakui dengan lapang dada, bahwa demikianlah realitas dunia sekarang. Segalanya membutuhkan uang. Kapan, dengan siapa dan di mana pun kita berada, hampir seluruh aspek kehidupan kita tidak bisa dilepaskan dari yang namanya uang.

Morgan Housel, dalam bukunya The Psichology of Money: Pelajaran Abadi Tentang Kekayaan, Ketamakan dan Kebahagiaan mengatakan:

"Money is everywhere, it affects all of us and it confuses most of us." 
Uang itu ada di mana - mana, ia mempengaruhi kita dan membingungkan sebagian dari kita. 

Nah, oleh karena uang itu begitu dekat dan sulit dilepaskan dari segala lini kehidupan kita, maka dalam artikel ini, kita akan mengulas pelajaran - pelajaran apa saja tentang uang yang bisa kita peraktekan dalam kehidupan kita sehari - hari. 

Mungkin tidak bertujuan agar kelak mampu mempersembahkan kemewahan pada calon mertua, tapi setidaknya dengan tahu cara mengelola keuangan secara lebih baik, kita jadi terbebas dari sikap pura - pura lupa di saat tanggal tagihan utang yang seolah datang secara tiba - tiba, hahaha. 

Dan artikel ini akan mengambil referensi utama dari buku The Psychology of Money: Pelajaran Abadi Tentang Kekayaan, Ketamakan dan Kebahagiaan karya Morgan Housel. Yuk, kita simak bersama!

1. Mengelola keuangan tidak banyak berhubungan dengan kecerdasan melainkan dengan perilaku.

Selama ini, kita mungkin berpikir bahwa kalau kita cerdas, maka otomatis kita akan kaya karena sudah pasti kecerdasan kita akan memudahkan kita dalam mengelola keuangan. Sampai kasus tertentu, itu benar. Namun menurut Housel, tidak semua kasus seperti demikian. Malah kebanyakan, orang yang cerdas dan ahli dalam suatu bidang pekerjaan tidak selalu kaya atau sukses dalam hal keuangan kalau perilakunya selalu bertentangan dengan bagaimana uang itu bekerja.

Beliau memberi contoh dua orang yang berbeda. Satu adalah eksekutif muda yang sangat cerdas serta ahli dalam suatu bidang pekerjaan dan tentu memiliki pendapatan yang besar. Namun karena perilakunya suka menghamburkan begitu banyak uang bahkan hanya untuk sekedar menyombongkan diri di hadapan orang - orang, uangnya tidak mampu bertahan lama dan akhirnya dia jatuh miskin dengan utang yang menumpuk di sana - sini.

Sementara itu, satu orang yang lain memiliki pekerjaan biasa, hanya sebagai petugas kebersihan dan menjaga pom bensin di Amerika. Pendapatannya pun jauh berada di bawah sang eksekutif. Namun karena perilakunya terhadap uang selaras dengan bagaimana uang itu bekerja, orang - orang akhirnya dikagetkan dengan kekayaan yang dimilikinya saat dia meninggal. Seorang petugas kebersihan, hidup sederhana tapi berita menampilkan namanya sebagai salah satu orang yang berharta di atas delapan juta dollar tepat di hari kematiannya.

Pelajarannya kata Housel adalah, 

untuk mengelola keuangan dengan baik, tidak ada hubungannya dengan kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang. Itu lebih banyak berhubungan dengan perilakunya sehari - hari. Dan perilaku sukar diajarkan bahkan kepada orang - orang yang sangat cerdas." 

2. Setiap orang adalah anak sejarahnya masing - masing.

Setiap orang memiliki sejarah kehidupannya masing - masing yang pada gilirannya akan membentuk perilakunya terhadap uang. Pada usia tertentu, ada yang mengutamakan membeli kendaraan terlebih dahulu, tapi ada juga yang lebih main aman dengan membeli rumah sebelum membeli kendaraan. Lalu ada juga yang berpikir untuk lebih baik mengalokasikan uang yang dimilkinya untuk berinvestasi dengan harapan uangnya bisa tumbuh dalam setiap tahun. 

Apapun keputusan yang diambil seseorang dalam mengelola keuangannya, baik itu berinvestasi, konsumsi atau sekedar disimpan di tabungan biasa, sebagian besar dibentuk oleh pengalaman masa lalu mereka masing - masing. Sehingga apa yang menurut satu orang masuk akal, bisa saja merupakan keputusan yang gila menurut orang lain. Kata Housel, dalam mengelola keuangan, apa yang tampak gila bagi seseorang, bisa jadi sangat masuk akal bagi orang lain. 

Dan itulah mengapa sebaiknya kita tidak boleh menghakimi orang lain ketika mereka membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang menurut kita tidak masuk akal. Mereka memiliki sejarah hidupnya masing - masing.

Pun demikian dengan kita sendiri dalam mengelola uang. Tidak masalah kalau yang kita beli itu adalah sesuatu yang tidak sama dengan orang lain. Sejarah hidup kita berbeda, pengalaman kita dalam keuangan berbeda dan kebutuhan kita tentu juga berbeda.

3. Faktor keberuntungan (Luck) dan resiko (Risk).

Akan tiba saatnya dalam hidup ini kita akan dihadapkan pada berbagai pandangan atau penilaian yang datang dari orang - orang di sekitar kita. Yang paling umum dan paling sering terjadi adalah orang akan dipuji kalau sudah kaya dan sukses, dan mungkin di caci atau dibenci kalau masih gagal dan tidak memiliki apa - apa. Tak jarang, orang - orang akan menganggap bahwa orang yang sukses dan kaya sebagai orang yang cerdas dan pekerja keras, tapi yang masih gagal dan belum memiliki apa - apa akan dianggap orang bodoh dan malas.

Namun menurut Housel, tidak selamanya demikian. Tidak selamanya orang menjadi kaya murni karena cerdas dan kerja keras semata. Juga tidak semua orang gagal dan miskin disebabkan karena bodoh dan malas. Ada faktor penentu di balik kaya atau miskinnya seseorang, yaitu faktor keberuntungan dan resiko, luck and risk.


Sebagai contoh, Morgan Housel mengambil nama Bill Gates dan Kent Evans untuk memperjelas peran keberuntungan dan resiko dalam status gagal atau suksesnya seseorang, di mana Bill Gates dan Kent Evans sebenarnya berada dalam satu sekolah yang sama pada masa itu, di sebuah sekolah yang memiliki fasilitas komputer yang bisa memperkuat minat mereka. Keduanya juga sama - sama pintar dan jago dalam ilmu komputer. Namun yang sekarang terkenal dan kaya raya adalah Bill Gates sendiri, itu karena Kent Evans mengalami kecelakaan dan meninggal ketika pergi mendaki gunung sebelum lulus SMA.


Tentu saja ini bukan berarti untuk mengatakan bahwa kesuksesan orang lain itu karena keberuntungan atau hoki belaka. Dan kegagalan serta kemiskinan diri sendiri murni karena resiko. Tapi sebenarnya hendak mengingatkan kita bahwa, ada hal - hal yang berada di luar kendali kita dalam hal kekayaan dan pengelolaan keuangan. Dan kita diharapkan untuk menerima keduanya dengan kepala tegak sebagai sesuatu yang tidak bisa dibantah. 

Maka jika kelak menjadi kaya, bersikaplah rendah hati karena bisa jadi kekayaan yang dicapai juga dipengaruhi oleh satu keberuntungan kecil. Namun jika masih gagal dan belum memiliki apa - apa, maka tetaplah berbesar hati. Bisa jadi, bukan cara kita yang salah dalam mencapai kekayaan, melainkan ada faktor resiko yang yang tidak bisa kita kendalikan. 

Demikian juga ketika menilai orang lain. Karena kata Housel, di dunia ini tidak ada yang benar - benar bagus atau benar - benar jelek sebagaimana kelihatannya.

4. Berhenti dan merasa cukup.

Salah satu hal yang paling sulit untuk dilakukan oleh seseorang dalam hidup adalah untuk berhenti dan merasa cukup. Bahkan tak jarang saking gairah dan ambisiusnya mereka dalam mengejar sesuatu sampai rela mempertaruhkan segala yang telah mereka miliki. Mulai dari jabatan, gaji, reputasi hingga harga diri.

Sementara itu, orang - orang yang hidup dengan rasa cukup justru kadang dianggap tidak memiliki semangat dan mengabaikan potensi yang ada di depan mata. Tapi yang menjadi masalah adalah, selain karena ada faktor resiko yang bisa saja terjadi, manusia itu sendiri juga memiliki sifat bawaan untuk tidak pernah merasa puas saat sesuatu sudah dicapai. Satu hal didapat, dia akan mengnginkan lagi hingga baru sadar ketika yang ada pada dirinya hilang semua.

Maka kata Housel, 
Tak ada alasan untuk mempertaruhkan sesuatu yang Anda miliki dan butuhkan demi apa yang tak Anda miliki dan tak anda butuhkan."

Berhentilah untuk terus mengejar dan mengejar, apalagi kalau itu hanya untuk mengikuti standar yang ditentukan masyarakat. Sebab percayalah, itu tidak akan pernah berhenti. 

Sebaliknya, merasa cukup mungkin tampak terdengar seperti mengabaikan potensi dan peluang di depan mata. Tapi rasa cukup itu sendiri justru adalah satu - satunya alasan kelak kita tidak akan jatuh ke dalam lubang penyesalan yang dalam. Karena cukup, tentu tidak sama dengan masih kurang.

5. Waktu dan konsistensi adalah teman terbaik dalam menabung dan investasi.

Selain sukar berhenti dan merasa cukup, sifat dasar buruk yang dimiliki manusia yang lain adalah keinginan untuk sukses secara instan. Hal ini terutama sangat melekat dengan gen z. Baru kerja satu tahun, sudah mengeluh kok gaji tidak naik - naik. Usaha baru berjalan tiga bulan, sudah cemas soal pelanggan yang yang tak kunjung ramai. Demikian juga dalam hal menabung dan investasi, baru menabung satu bulan, rasanya sudah ingin menarik kembali tabungan itu. Tidak sabar, dan ingin segera sukses. Padahal tidak ada kekayaan yang dibangun kemarin malam. Orang yang suka SKS (Sistem Kebut Semalam), membuktikan itu. kalau tidak ada hasil, maka hasilnya pasti kacau.

Morgan Housel mencontohkan Warren Buffet. Tidak sedikit yang tahu, bahwa sampai saat ini Warren Buffet masihlah merupakan salah satu investor paling paling sukses di dunia. Namanya pun tentu masih berjejer di antara deretan nama - nama orang terkaya. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Waren Buffet mulai terjun dalam pasar modal dan berinvestasi sejak usia sepuluh tahun. Dan yang paling penting, beliau konsisten menabung dan tidak peduli dengan pasar yang selalu naik turun. Hasilnya? Ya, Warren Buffet yang kita kenal saat ini: kaya raya dengan aset tersebar di berbagai perusahaan.

Kita tidak perlu menjadi seperti Buffet yang akan memiliki saham di berbagai macam perusahaan, kita hanya perlu menabung dengan cara kita sendiri. Tapi agar tabungan itu bisa menumpuk dan berubah menjadi aset kekayaan, maka tidak ada cara terbaik selain sabar, diam dan konsisten. 

Tidak akan ada perpustakaan di dunia ini yang menyediakan buku investasi terbaik yang bisa membawa kita pada kesuksesan instan. Yang ada dan perlu kita lakukan adalah sabar dan konsisten. Sisanya? Diam dan tunggu, biarkan waktu  memainkan perannya. Kalau tidak sukses?  Maka setidaknya kita tidak kehilangan segala yang kita mililki karena ketergesa - gesaan kita.

6. Menjadi kaya vs tetap kaya. 

Mencari uang adalah satu hal, mempertahankan uang yang sudah didapat, adalah hal lain, kata Housel. 

Dalam konteks menjadi kaya, semua orang bisa melakukannya. Banyak buku mengajarkan itu, dan siapa saja yang ingin kaya maka dapat mempelajarinya. 

Tapi ketika sudah kaya raya, tidak banyak yang mampu mempertahankan kekayaan yang dimilikinya. Mereka jatuh dan bahkan berbalik 180 derajat alias terjerat utang. Kalau penyebabnya karena faktor eksternal, mungkin tidak ada yang membicarakannya. Tapi kebanyakan penyebab orang jatuh dari kekayaan yang sudah susah paya mereka cari adalah karena kecerobohan, dan sifat tidak pernah merasa cukup. 

Dalam bukunya, Housel mencontohkan dengan mengangkat kisah - kisah investor yang bahkan sampai melawan hukum pasar yang sebenarnya mereka paham untuk tidak dilawan. Alhasil, seseorang yang kemarin meraih jutaan dollar di pasar modal, namun karena tidak pernah merasa cukup dengan yang telah dia capai maka hari ini dia kehilangan jumlah yang sama, bahkan lebih.

Dan kita? Ya mungkin bisa mengambil pelajarannya kalau suatu saat menjadi kaya atau memiliki sesuatu suapaya mengingat - ingat bahwa bersikap rendah hati terhadap sesuatu yang kita miliki tidak akan merugikan kita. 

Housel menanamkan satu kesadaran bahwa kita harus sadar, apa yang kita capai bukan murni karena usaha kita semata. Melainkan tidak terlepas dari faktor keberuntungan. Oleh karena ada peran keberuntungan di sana, maka belum tentu dalam usaha pengejaran yang akan datang tetap disertai dengan keberuntungan. Bisa saja yang terjadi malah resiko yang menyertai kita. Mengabaikan hal ini, akan menghancurkan seluruh kekayaan yang sudah dicapai dengan susah paya.

7. Jangan menaruh seluruh telur dalam satu keranjang.

Housel mengawalinya dengan satu istilah, "hasil di ekor" dan mencontohkan tentang perusahaan disney yang membuat begitu banyak film. Namun di antara banyaknya film yang dibuat itu, hanya satu film yang memberikan hasil besar yang bahkan menyelamatkan perusahaan itu dari kebangrutan.

Berinvestasi atau bahkan menabung, artinya kita bertaruh dengan sesuatu yang tidak kita ketahui secara pasti akan datang kepada kita. Kadang kebruntungan, tapi kadang juga mungkin kerugian. Maka kata Housel, jangan pernah simpan aset atau uang dalam satu wadah. Penting untuk mempertimbangkan diversifikasi saat menabung atau berinvestasi. Satu wadah mungkin tidak memberikan keuntungan, tapi setidaknya wadah lain akan membuatnya seimbang kalau bukan memberinya keuntungan yang besar. 

8. Uang dan kemerdekaan.

Kata orang, uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi uang bisa membeli waktu, dan sepertinya, tidak ada kebahagian yang yang tidak terikat pada waktu. 

Bayangkan suatau malam, kita ingin santai sampai larut. Tapi kita ingat, besoknya harus bangun pagi dan tidak boleh terlamabat berangkat kerja.

Atau bangun pada pagi hari dan ingin joging untuk menyegarkan badan, tapi kita sadar itu bukan hari minggu.

Maka kata Housel, 
Manfaat terbesar dan bentuk tertinggi dari kekayaan adalah kemampuannya untuk membuat kita bebas melakukan apa saja yang kita inginkan, kapan saja kita mau, dengan siapa yang kita kehendaki dan selama yang kita bisa."

Ya, seperti bangun pagi dan berkata kepada diri sendiri, "saya akan melakukan apapun yang saya inginkan hari ini," tanpa takut dimarahi bos karena pasti menggangu proses produksi hari itu. Menurut Housel, itulah deviden terbesar yang bisa diberikan uang kepada kita: kendali atas waktu  dan kehidupan kita sendiri.

9. Man in the car paradox.

Man in the car paradox atau paradoks orang dalam mobil berbicara tentang seseorang dalam mobil yang berpikir bahwa dengan mobil yang dimilikinya orang akan kagum dan menaruh rasa hormat. Namun kenyataan yang sebenarnya adalah orang tidak benar - benar kagum dengan siapa pemiliki dan siapa yang menumpangi mobil itu. Mereka lebih fokus mengorientasikan diri mereka sendiri pada mobil yang mereka lihat dan membayangkan betapa keren kalau mereka memiliki mobil seperti itu.

Maka ketika kamu ingin dihormati, dikagumi dan ingin mendapat pujian dengan membeli mobil dan barang - barang mewah, kata Housel itu adalah satu kesalahan. Karena orang tidak akan memberikannya padamu, melainkan pada barang yang kamu miliki sembari membayangkan bagaimana indahnya jika mereka yang memiliki barang - barang mewah tersebut. Pujian dan sikap hormat yang sesungguhnya hanya akan didapat lewat perbuatan, tutur kata dan bagaimana kita memperlakukan sesama.

10. Kaya dan terlihat kaya (Wealth vs Rich).

Zaman sekarang, sangat mudah menemukan orang kaya. Mereka bisa dijumpai di jalan raya dengan kendaraannya yang mewah, ditemukan di mall dengan outfitnya yang serba wah, terlihat santai di bandara dengan penerbangan kelas bisnis atau heboh di sosial media dengan deretan postingan barang - barang mewah yang mereka miliki. 

Menurut Housel, mereka memang kaya. Karena bahkan hanya untuk satu barang mewah yang mereka miliki saja, harganya mencapai ratusan juta. Namun selain barang mewah yang mereka perlihatkan, satu hal yang kita ketahui juga adalah bahwa uang mereka pasti berkurang sejumlah harga barang mewah yang mereka miliki. 

Kalau seseorang memiliki mobil seharga lima ratus juta, selain mengetahui mobilnya, kita juga mengetahui bahwa uangnya berkurang lima ratus juta kalau bukan dibeli dengan cara berutang --lima ratus juta di bank plus bunga dan hatus dibayar setiap bulan. 

Tapi selain orang kaya (rich), ada juga orang yang benar - benar kaya (wealth). Mereka adalah orang yang tidak terlihat kaya di mata masyarakat, namun memiliki kekayaan yang luar biasa. Mobilnya mungkin butut, tapi asetnya di mana - mana. Tidak pernah pamer kemewahan, tapi pemegang saham terbanyak di suatau perusahaan. 

Orang - orang seperti itu kata Housel adalah definisi dari orang kaya yang sejati. Karena menurutnya, kekayaan yang sesungguhnya adalah apa yang tidak terlihat. Kekayaan sejati bukan terletak pada barang - barang mewah melainkan pada hal - hal yang tidak dimiliki meski sebenarnya mampu untuk dimiliki. Itu adalah mobil mewah yang tidak dibeli, rumah besar yang tidak dimiliki, penerbangan kelas bisnis yang tidak dinaiki atau outfit serba wah yang tidak dikenakan --suatu pendapatan yang tidak dibelanjakan, tapi dibiarkan tumbuh dan tak terlihat.

11. Menekan pengeluaran, memperbesar tabungan.

Kita mungkin pernah tiba pada situasi dalam hidup di mana kita merasa kalau kita sudah bekerja bertahun - tahun namun tabungan masih segitu - gitu saja atau bahkan tidak memilikinya sama sekali. Kita lalu mulai memikirkan untuk mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar agar kita bisa menabung dan menabung lebih banyak lagi.

Namun kata Housel, kadang yang membuat kekayaan itu akan bertambah adalah bukan karena pendapatan yang semakin besar, melainkan pada kemampuan kita untuk menekan pengeluaran sampai sesedikit mungkin sehingga kita memiliki sisa yang lebih banyak dari pendapatan kita untuk ditabung atau diinvestasi. 

Untuk ini, beliau memberi satu analogi tentang bagaimana persediaan minyak bumi dan konsumsi masyarakat terhadapnya. Di mana, salah satu cara sehingga minyak bumi masih ada dan bertahan sampai saat ini adalah bukan karena persediaanya di dasar bumi yang bertambah, melainkan karena kemampuan manusia dalam menemukan teknologi yang lebih canggih dan efisien sehingga konsumsi bahan bahan bakar minyak lebih sedikit.

Tidak salah jika kita berusaha untuk meningkatkan pendapatan, namun jika pengeluaran kita juga selalu berbanding lurus dengan pendapatan yang kita terima, maka mustahil tabungan itu akan bertambah. Belum lagi dalam usaha peningkatan pendapatan, kita mungkin akan berhadapan dengan berbagai resiko. 

Maka  kata Housel, di situlah saatnya kita untuk belajar bagaimana caranya untuk bisa tetap bahagia dengan hanya sedikit pengeluaran. Dengan hanya sedikit yang dibelanjakan alias hidup hemat, maka jumlah yang bisa ditabung menjadi lebih besar. 

12. Ketika masuk akal (reasonable) lebih baik dari rasional.

Ketika mengelola keuangan tidak selalu berhubungan dengan kecerdasan melainkan lebih ke perilaku dan emosi, maka argumen "lebih baik masuk akal daripada rasional" jadi dapat diterima. Tapi apa bedanya masuk akal dan rasional dalam konteks pengelolaan keuangan menurut Housel?

Morgan Housel menjelaskannya dengan mengangkat contoh kasus tentang seorang dokter yang menemukan cara menyembuhkan penyakit sifilis dengan terapi malaria. Sang dokter menyuntikan pasien dengan kuman penyeba demam.

Dari perspektif medis, terapi demam yang dilakukan sang doketr itu rasional: menggunakan data, bersifat ilmiah, related dengan teori - teori medis dan kedokteran. Namun sulit menemukan pasien yang akan mau menderita karena demam yang menggigil. Kata Housel, demam yang digunakan untuk menyembuhkan sifilis mungkin rasional, tapi masuk akal akhirnya jika orang menghindari pengobatan semacam itu. 

Demikian juga dalam hal mengelola keuangan. Rasional tanpa mempertimbangakan perasaan bisa berpotensi membawa kerugian.

Zaman sekarang sangat rasional untuk ikut berinvestasi dalam berbagai instrumen. Dari emas, saham cripto dan lain sebagainya. Tapi apakah akan masuk akal kalau keuangan kita hanya cukup untuk biaya hidup diri sendiri sampai bulan depan? 

Maka boro - boro mengutamakan investasi, mengalokasikannya ke dana darurat yang mudah dicairkan kapan saja adalah keputusan yang seharusnya masuk akal. 

13. Apa yang terjadi hari ini, belum tentu terjadi lagi di masa depan.

Morgan Housel memberikan kritiknya kepada para eknom yang kerap memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan berdasarkan kejadian masa lalu. Karena menurutnya, dunia investasi dan keuangan bukanlah sains keras yang dengan mudah diselesaikan dan dijelaskan dengan rumus dan angka - angka, melainkan oleh keputusan seseorang yang didorong sebagian besar oleh perasaannya.

Sehingga kata Housel, dalam dunia investasi dan keuangan akan selalu ada kejutan - kejutan yang tak terduga yang melesat jauh dari segala perkiraan.

Coba bayangkan saja kamu adalah pemegang  saham paling besar suatu perusahaan. Dan selama ini perusahaan yang kamu miliki berjalan normal sesusai hukum pasar dan ekonomi. Lalu karena kamu sebentar lagi akan menikah dan berencana membayar mahar dengan tunai yang sangat banayak, maka kamu akan menjual seluruh saham perusahaan yang akan berpengaruh pada harga sahamnya di pasar modal. Suatu keputusan mendadak, membuyarkan semua perkiraan dan ramalan para alhi ekonomi.

Dunia tidak bisa ditebak, masa depan tak bisa diprediksi karena masa lalu sulit terulang lagi. Lalu apa yang harus kita lakukan?

14. Menyediakan ruang untuk kesalahan.

Sementara manusia bukan merupakan makhluk yang sempurna, kita juga hidup dalam dunia yang hanya terdiri dari kumpulan kemungkinan - kemungkinan, bukan kepastian. Sehingga, meseki prediksi dan rancangan kita sudah disusun sebaik mungkin, belum tentu rancangan itu akan membuahkan hasil. Bisa jadi, hanya untuk satu tujuan, memerlukan puluhan percobaan, baik dengan rancangan yang sama, atau rancangan berbeda. Masalahnya, untuk setiap rancangan yang kita sususun pasti memerlukan biaya, waktu dan tenaga. Kalau biaya habis dalam satu rancangan keuangan, maka buyarlah nasib kita.

Kata Housel, dalam hal mengelola keuangan, kita sebenarnya tidak kurang seperti seorang penjudi yang juga bermain dengan peluang. Dan dengan menyediakan ruang untuk kesalahan, kita tetap dapat bertahan saat peluang kita untuk menang belum datang. Sehingga kita mampu tetap bertahan sampai resiko keuangan kita memberikan hasil yang memuaskan.

Memiliki pendapatan lebih dari satu sumber, memiliki dana darurat, tidak membelanjakan uang sampai tak tersisa pada suatau kesempatan serta rancangan keuangan yang bervariasi adalah upaya - upaya yang memberikan ketahanan finansial kepada kita yang hidup dalam dunia yang serba tidak pasti, selalu berubah dan bertaruh peluang.

15. Tidak ada yang gratis di dunia ini. 

Tidak ada hal yang gratis di dunia ini.  Bahkan kata "terima kasih" sebenarnya adalah harga yang harus kita berikan pada siapa yang telah menolong kita. Mengabaikan itu, maka kita akan membayarnya dengan omongan mereka di belakang kita, haha.

Nah, dalam hal menabung dan investasi juga sama saja. Kata Housel tidak ada yang gratis, semua ada harganya. Hanya saja tidak semua harga terpampang pada label. Tapi kita harus menyadarinya dan harus membayarnya.

Sebagai contoh, kita mungkin menganggap bahwa deviden dari perusahaan yang sahamnya kita pegang adalah keuntungan yang cuma - cuma. Namun sebenarnya kita sudah membayar itu dengan kesabaran dalam menunggu, sikap tidak terpengaruh saat ekonomi sedang krisis, rasa takut yang berhasil diatasi, keraguan yang berhasil ditepis dan mungkin penyesalan yang datang karena kita melewatkan kenikmatan lain demi bisa mempertahankan tabungan kita untuk tetap tumbuh. 

Itu semua adalah harga yang sebenarnya tidak tertera pada aplikasi jual beli saham, tapi kita tetap membayarnya. Jika kita ingin tabungan dan investasi memberikan imbal balik yang menguntungkan, maka kata Housel, bersedialah membayar semua harganya termasuk yang tidak tertera --kesabaran menunggu, sikap untuk tidak panik, dan tentu saja kerelaan untuk hidup sederhana karena yakin bahwa bayar sekarang maka dapat untungnya nanti.

17. Jangan mudah percaya dengan omongan orang lain.

Kita hidup di zaman dengan teknologi yang super cepat. Hampir setiap saat informasi berseliweran di mana - mana, mewarnai setiap detik keseharian kita. Bersamaan dengan itu, informasi seputar keuangan dan nasehat - nasehat investasi ikut nimbrung masuk ke dalam benak kita. Ada yang datangnya dari selebgram papan atas yang merekomendasikan saham A, ada juga yang datangnya dari beberapa investor yang hadir di poadcast - poadcast tertentu. Dan kita, entah karena takut ketinggalan atau karena ingin kaya lewat jalur seperti mereka, langsung buru - buru mengikuti rekomendasi mereka, tanpa pertimbangan yang matang.

Maka kata Housel, hati - hatilah dalam mengambil petunjuk finansial dari orang yang melakukan permainan yang berbeda dengan kita. Karena kita tidak benar - benar tahu, kenapa seseorang merekomendasikan ini, menawarkan itu. Yang kita tahu nanti adalah ketika belakangan keputusan yang kita ambil atas saran dan nasehat mereka telah membawa kita pada kehancuran. 

Tidak perlu ikut dalam permainan orang lain, kalau kita memiliki permainan sendiri. Jika menabung biasa di bank adalah satu - satunya cara yang kita ketahui dalam hal mengelola uang, lantas kenapa harus mengambil resiko dengan berinvestasi di suatu instrumen padahal kita tidak tahu apa - apa tentang instrumen itu. Karena pada akhirnya yang menanggung kerugian atas keputusan yang kita ambil adalah diri kita sendiri, bukan mereka yang telah merekomendasikannnya. 

18. Godaan untuk bersikap pesimis vs optimisme yang rasional.

Salah satu hal yang membuat kita tidak maju dalam hal keuangan adalah kita selalu pesimis dalam melihat masa depan. Kita mungkin ingin menabung, tapi tidak jadi karena berpikir, sisa uang yang akan ditabung terlalu sedikit, jadi tidak mungkin bisa menumpuk dan menjadi banyak. Ingin berinvestasi di suatu instrumen keuangan tapi takut dengan berita - berita yang sering terpampang di media tentang orang - orang yang keuangannya hancur karena kesalahan investasi. 

Kenapa kita tergoda untuk bersikap pesimis dalam melihat kenyataan dan tidak berani mengambil resiko? Karena menurut Housel, sikap pesimis akan tampak membuat sesorang cenderung lebih realistis dan berhati - hati. Orang - orang akan menganggap dirinya sebagai orang yang cerdas dan penuh pertimbangan. Hal ini di dukung lagi dengan bagaimana berita - berita kebanyakan hanya menampilkan tentang krisis, resesi dan kehancuran ekonomi. Sementra berita - berita positif seperti perkembangan dan pertumbuhan jarang diupdate di media - media.

Namun kata Housel, dalam jangka pendek, bersikap pesimis mungkin tampak benar. Ini terlihat realistis dan seperti suatu kebijaksanaan. Tapi ketika dilihat dalam jangka panjang, sikap pesimis justru akan merugikan kita karena membuat kita tidak berani ambil resiko sehingga melewatkan peluang untuk maju dan tumbuh. 

Sehingga menurutnya, daripada terjebak dalam sikap pesimisis yang merugikan, lebih baik untuk bersikap optimis tapi dengan pertimbangan yang rasional.

Betul bahwa hal - hal buruk bisa terjadi kapan saja dan menimpa keuangan kita. Perang mungkin terjadi besok yang bisa merusak ekonomi dan pasar. Tapi sejarah juga mencatat bahwa dalam jangka panjang ekonomi dunia selalu bergerak naik ke arah yang positif. Perubahan hidup manusia selalu lebih baik dari sebelumnya dan seharusnya ini menjadi tanda bahwa secara keseluruhan, ke depannya akan baik - baik saja. Tinggal bagaimana kita dalam mengatur strategi jangka panjang dan mampu bertahan dalam setiap situasi yang naik turun saat ini.

19. Penutup dan kesimpulan.

Housel menutup bukunya dengan beberpa argumen yang menarik, bahwa tidak ada seorangpun yang tahu tentang keuangan orang lain, apa yang dia inginkan dengan uangnya dan dengan siapa dia menginginkannya. Maka karena itu, tak seseorangpun sebenarnya yang bisa memberikan nasehat - nasehat keuangan yang dianggap baik dan benar.

Namun begitu, tetap ada kebenaran - kebenaran universal yang bisa membuat keuangan seseorang itu berjalan lebih baik seperti pada poin - poin yang sudah diulas di atas yang mana perlikau dan sikap kita bisa lebih penting dari banyak hal. 

Seseorang bisa saja sangat cerdas dengan memahami banyak teori dan rumus - rumus ekonomi yang bisa membuatnya mampu mengalahkan pasar dan meraup keuntungan besar lewat berinvestasi. Namun satu keputusan emosional yang dia buat dapat menghancurkan rencana serta meruntuhkan segala yang telah dia kumpulkan.

Kenadalikan perilaku, ambil sikap yang positif dalam melihat situasi, rendah hati terhadap segala yang telah didapat, berani ambil resiko, sabar menunggu dan konsisten setiap saat serta jangan gampang tergoda untuk ikut dalam permainan atau saran - saran keuangan orang lain yang kita tidak tahu permainan yang mereka mainkan. 

Dunia ini adalah kumpulan peluang - peluang, dipenuhi resiko - resiko tertentu dan jelas bukan suatu kepastian. Maka untuk bisa kaya dan bahagia di masa depan, caranya tidak selalu dengan memperbesar pendapatan, tapi cukup dengan memperkecil pengeluaran serta menghilangkan ketamakan.

Juga jangan lupa bersyukur, berhenti untuk terus mengejar dan mulailah belajar untuk berbahagia hanya dengan sedikit uang. Hingga suatau saat, sebagaimana kata Housel, kamu akan mendapatkan manfaat tertinggi dari uang yaitu kemampuannya untuk memberikan kebebasan melakukan apa saja yang kamu mau, kapan kamu menginginkannya, dengan siapa yang kamu kehendaki dan selama kamu bisa. 


Informasi buku:

Judul: The Psychology of Money
Penulis: Morgan Housel
Penerbit: Bentara Aksara Cahaya
Tahun terbit: 2020
Cetakan ke XVI: Desember 2021

Posting Komentar untuk "Morgan Housel, The Psychology of Money: Pelajaran Abadi Tentang Kekayaan, Ketamakan dan Kebahagiaan"