Ketika saya sedang asyik bertanya - tanya soal kenapa hidup ini begitu menderita, tiba - tiba suatu istilah baru mencoba dan berusaha masuk dalam pikiran saya: "Something doesn't kill you, make you stronger." Ia --istilah itu, masuk dalam benak saya lewat berbagai arah dan cara. Pertama kali ia pernah masuk dari arah depan, lewat mata. Itu terjadi ketika saya menemukannya dalam suatu postingan di sosial media. Di sana, ia bertengger sebagai sebuah quotes pelengkap yang terletak di bagian caption sebuah postingan.
Lalu ketika saya beralih ke youtube, istilah itu kembali nongol di sana dan siap menusuk ke dalam pikiran. Kali ini ia akan masuk lewat samping, didengar kedua telinga. Saat itu, jari - jari saya memang sedang gatal - gatalnya dan akhirnya tidak tahan untuk mengklik salah satu video selfdevelopment dengan gambar dan thumbnil yang begitu menggoda. Maka dari mulut para poadcaster yang fenomenal itu masuklah ia ke dalam benak saya, tajam dan sangat menusuk.
Lalu lain kali, istilah yang pernah terkenal dan akan terus terkenal dalam lingkungan kawula muda yang keren itu, mencoba cara yang cukup seporadis untuk menanamkan akarnya dalam benak saya. Ia mencoba masuk ke dalam benak dengan cara hadir di dalam sebuah mimpi! Satu sosok misterius, berkumis lebat, berjas hitam dan berdasi kupu - kupu sekonyong - konyong muncul di hadapan saya. Ia seolah muncul dari udara dalam kondisi sedang duduk bersilah. Kemudian dengan penuh ketenangan dan langkah yang meyakinkan, sosok berbadan tinggi itu jalan mendekat ke arah saya. Sorot matanya tegak ke depan, menampakan aurah yang kharismatik dari dalam dirinya. Lalu ketika sudah tepat berada di samping saya, tangan kananya naik ke pundak lalu mengelus - elus ringan . Dan segera setelah itu, mukanya turun ke telinga saya dan ia mulai berbisik, "anak muda, sesuatu yang tidak membunuhmu, akan membuatmu kuat." Saya terpaku, tak percaya telah dihadiri sesosok misterius seperti itu. Lalu sejurus kemudian ia menurunkan tangannya dari pundak saya, meluruskan kembali wajah dan tatapannya ke depan. Tau - tau saja, bongkahan awan terbang yang tadi membawanya ke sini, sudah berada di depannya seolah tahu kemana saja tuannya akan pergi.
Sementara ia melangkahkan kakinya menju bongkahan awan itu, saya memutar badan dan pandangan saya mengikutinya pergi. Ia lalu menaikan dirinya ke atas bongkahan awan itu, duduk bersilah dan memejamkan matanya. Sejurus kemudian, seperti piringan terbang milik alien, bongkahan awan itu membawanya pergi. Sesaat sebelum dirinya menjauh, kembali ia mengingatkan. Suaranya menggelegar sampai ke angkasa raya, "INGAT ANAK MUDA, SESUATU YANG TIDAK MEMBUNUHMU AKAN MEMBUATMU KUAT." Begitu dahsyatnya suara itu sampai menggema ke segala arah, "INGAT ANAK MUDA, SESUATU YANG TIDAK MEMBUNUHMU AKAN MEMBUATMU KUAT!!" Gemanya saja mampu meruntuhkan dedaunan setengah tua dari pepohonan yang ada di sekitar. Tikus - tikus dan hewan malam yang dari tadi mungkin menyaksikan kehadiran sesosok misterius itu, berlarian menuju peraduan mereka masing - masing.
Lalu tiba - tiba, sesuatu terasa bergerak - gerak dalam tenggorokan saya, leher terasa panas dan, "ohuk, ohuk, ohukkk!!" Semakin lama rasanya semakin nyata dan, tiba - tiba saya terbangun dari tidur yang bermimpi dapat petuah dari sesosok misterius berkumis tadi. Sementara mengumpulkan nyawa dengan tangan yang mengepal di depan mulut melanjutkan batuk, saya duduk selonjor di atas kasur dan mulai merenungkan kejadian - kejadian yang berkaitan dengan satu istilah yang belakangan ini mencoba masuk ke dalam benak saya lewat berbagai cara itu. Hingga nekat sampai masuk lewat mimpi begini, apa rupanya yang ia inginkan dalam diri saya? Adakah alasan kuat yang membuatnya begitu kukuh menancapkan akarnya dalam benak saya?
Seketika saya tertegun. Lau seperti diketok palu jin, kepala saya membunyikan sesuatu bahwa saya adalah seorang pemuda yang seumur hidup dibalut ribuan derita. Semakin dewasa, derita - derita itu kian kompleks dan tambah bervariasi pula. Saya sendiri bahkan kadang tidak menyadari bahwa saya itu orang yang menderita. Lalu menjadikanya semakin konyol adalah ketika saya dengan tanpa kesadaran pula menambah derita - derita yang sudah ada. Saya mulai suka melakukan hal - hal yang seharusnya tidak perlu saya lakukan. Hal - hal itu antara lain adalah tindakan merusak diri sendiri, malas menabung, suka marah - marah tidak jelas, dan ahh iya: saya malah jatuh cinta yang belakangan saya sadar, itu salah satu tindakan konyol pelengkap derita yang selama ini sudah saya emban.
Kalau hal - hal konyol yang saya lakukan itu hanya sekedar dilakukan saja, mungkin itu tak seharusnya jadi bahan cerita di sini. Tapi masalahnya, bukan saja saya tak pernah tahu bahwa hal - hal itu adalah hal - hal yang seharusnya salah jika dilakukan oleh manusia sejuta derita seperti saya, dengan kepongahan yang amat akut, saya pernah membangga - banggakan hal - hal yang saya lakukan itu.
Misalnya, tempo hari saya suka memposting foto terbaik saya di sosial media dengan sebatang rokok di mulut. Kadang juga rokok itu membara dan terjepit kedua jari di samping paha dan kadang juga masih tergeletak dengan bungkusan di atas meja. Saya akan memposting foto - foto itu lengkap dengan berbagai caption. Apapun kata - kata yang saya ketik pada caption, substansinya selalu sama yaitu bahwa rokok membuatku bahagia, rokok membuat pikiranku tenang dan betapa nikmat merokok itu.
Lalu lain kali, saya juga terlibat dalam suatu tongkrongan peminat miras garis keras. Di sanalah saya tertawa kekeh bersama mereka sambil menuangkan minuman dengan rasa beragam cap itu ke dalam mulut. Dari yang cap hewan liar, hingga cap akar tumbuhan dari hutan antah berantah. Awalnya dari satu seloki, dua seloki hingga tak sadar sudah berpulu - pulu seloki menggenang di dalam perut. Dan di akhir semua ini, kami akan tepar sembari membualkan banyak hal. Ada yang membual Tuhan yang tidak adil, ada yang memaki pemerintah yang menurutnya suka kongkalikong dengan para kapitalis rakus. Karena rakus katanya, para kapitalis itu lalu bisa melibas apa saja, mengeruk segala sumber alam dan tentu membayar buruh seperti dirinya dengan sangat murah.
Selain berceloteh tentang pemerintah dan tindakannya yang tidak pro rakyat, ada juga yang membual tentang dirinya sendiri yang hatinya patah karena kekasihnya menghempaskanya begitu saja dari hubungan mereka. Atau karena setelah satu wanita menghempaskannya, ia jatuh cinta lagi dan lagi dan tak pernah sadar bahwa jatuh cinta mungkin adalah suatu kesalahan bagi mereka yang hidupnya menyandang berjuta derita. Saya masuk sebagai anggota dari himpunan yang ketiga.
Sehingga di situlah kita sekarang. Setelah puas merokok dan membanggakannya, puas minum lalalu membanggakannya, saya juga malah jatuh cinta. Dan semakin konyol saya sadari kemudian adalah ketika saya membanggakan hal itu lewat sebuah puisi yang dibuat sesaat setelah saya patah hati. Ohh sungguh dramatis hidup ini.
Puisi itu lalu saya posting ke publik tanpa pernah sadar di ujung dunia berdimensi lain, dewi cinta sedang ngakak terpingkak - pingkal menyakiskan wanita yang telah meremas hati saya sampi berkeping - keping sedang terlibat mesra dengan pasangannya. Ada kalanya mereka tertawa ria di hotel bintang lima, sesekali terkekeh - kekeh sembari mengecap rasa beragam makanan di restoran mewah atau lain kali mereka tertawa cekikikan sambil tenggelam dalam kasmaran di bioskop premiere saat sedang menyaksikan kisah cinta seorang pria berbayaran rendah yang mencoba - coba jatuh cinta. Dan ketika tokoh pria dalam film yang sedang diputar menangis tersedu - sedu, sang wanita yang telah meremukan dan mencampakan saya itu lalu terkenang akan sesuatu.
Mirip seperti si bodoh itu. Tak punya apa - apa, penampilan biasa aja nekat menggaet seorang wanita. Gembel amat, heuww...Ke laut aja sono!! Batinnya sambil menjentik - jentikan jemarinya ke bahu sang kekasih. Sampai di sini, pelajaran moral mulai dapat ditarik: seorang pria berjuta derita tak seharusnya nekat jatuh cinta!
Tapi begitulah, akhirnya saya sadar. Mulai dari rokok di tangan dan mulut yang kerap saya posting, tuak dan miras di meja tongkrongan yang saya minum hingga kenekatan untuk jatuh cinta dan berakhir dicampakan tanpa ampun, adalah deretan hal - hal yang saya sebut sebagai pelengkap derita yang tak disadari. Menjadi semakin konyol kemudian manakala hal - hal itu malah dibangga - banggakan.
Padahal, jauh sebelum saya kenal dengan kegiatan dan hal - hal yang secara pribadi sebagai hal - hal yang merusak diri seperti itu, sudah banyak nasihat yang mengingatkan bahwa tak baik jika saya lakukan hal - hal itu. Guru di sekolah, orang tua di rumah dan bahkan beberapa bacaan yang saya baca mengingatkan saya akan bahya dari hal - hal konyol itu. Untuk yang nomor tiga, mereka selalu menyarankan supaya lebih baik fokus kerja dulu, cari uang yang banyak, baru setelahnya boleh melirik seorang wanita. Lelaki tanpa harta benda, hanya akan dipandang sebelah mata, kata mereka. Tapi apa peduli? Meski sampai busa mulut orang mengingatkan, saya tetap merasa aman dan nyaman dengan hal - hal dan aktivitas yang merusak itu.
Tapi begitulah manusia, hanya akan sadar lalu berubah baru ketika sesuatu terjadi dalam dirinya. Sesuatu itu tentu bukan lagi hadir dalam nada - nada peringatan yang kini semakin lantang dari mulut orang - orang atau huruf - huruf yang kini dipertebal dalam sebuah bacaan. Tapi sesuatu itu adalah bertambahnya derita yang ia miliki dan rasakan. Apakah itu adalah jatuh sakit, menjadi semakin miskin atau dicampakan oleh banyak wanita dan para kerabat. Dan dalam kasus saya, sesuatu itu adalah ketiga hal di atas.
Tapi apakah sesuatu itu sekonyong - sekonyong lalu membuat kita berubah dari kebiasaan - kebiasaan kita? Itu tergantung pada siapa hal - hal itu terjadi. Tapi ketika itu terjadi pada saya, saya baru bisa berubah ketika saya benar - benar merenungkan apa yang saya alami. Benar - benar memahami sakit yang dirasakan berikut deretan penyebabnya.
Maka hening sejenak yang saya lakukan di atas tempat tidur ketika dihadiri sesosok misterius tadi adalah keheningan yang membawa saya dalam suatu kesadaran akan kebenaran istilah yang selama ini mencoba masuk dalam benak saya : something doesn't kill you, make you stronger.
Maka mungkin yang bisa menjadi akhir kata dari essay ini adalah bahwa kita semua mungkin pernah dan masih melakukan hal - hal yang merusak diri kita sendiri dalam berbagai bentuk lalu juga secara sangat konyol sebagaimana saya, malah membangga - banggakannya. Bahwa pada saat kita melakukannya kita tidak menghiraukan peringatan dari mereka yang peduli dan mencintai kita, itu tak masalah. Sebab akan tiba saatnya keangkuhan diri kita itu akan roboh dan tak berdaya di hadapan suatu penderitaan. Dan penderitaan itu bisa berupa apa saja. Mungkin itu adalah sakit keras, terlilit utang, atau seperti saya yang lengkap dengan ketiga poin itu: dicampakan oleh sang kekasih. Ah sial, naas sekali memang.
Tapi derita yang semakin bertambah saja tentu tidaklah cukup. Derita - derita itu juga harus dimaknai. Seperti istilah yang mencoba masuk ke dalam benak saya dan kini telah mengakar itu, sesuatu yang tidak membunuhmu, akan membuatmu kuat. Maka, Kawan, percayalah, sakit, papah dan mungkin juga patah hati, itulah yang dimaksud dengan 'something' itu. Mereka tidak membunuhmu, justru akan membuatmu jadi lebih kuat. Tapi itu hanya ketika kau benar - benar memaknai mereka secara mendalam. Karena kalau sakit dan derita - derita itu tidak dimaknai, boro - boro akan membuatmu kuat, mereka justru membuatmu semakin dalam terperosok ke lubang nelangsa dan penderitaan yang amat dalam. Lalu perlahan menyita perhatianmu, mengikis tubuhmu dan akhirnya membunuhmu!
Sekarang di fase mana kamu berada? Sedang diingatkan orang lain dan mungkin juga oleh dirimu sendiri bahwa yang kamu lakukan itu salah dan keliru? Dan kamu selalu ngeyel dengan peringatan - peringatan itu? Tak apa, hari ini ego mungkin akan bersuara lebih kencang, tapi percayalah, nurani akan selalu memiliki waktunya tersendiri. See a and God might be with you. Terima kasih telah membacaš«”

Posting Komentar untuk "Something Doesn't Kill You Make You Stronger: Ketika Penderitaan Menjadi Pengingat Terakhir Agar Kamu Bisa Berubah"