Dulu, saya suka bacaan berbau filsafat. Tapi para filsuf dari berbagai ruang dan waktu selalu memberi tahu saya secara implisit lewat teori mereka yang rumit: "Pat, otakmu bahkan tak punya cukup kapasitas untuk tahu apakah kamu itu ada atau tidak?" Teks-teks mereka seperti sedang berbicara di dalam kepala ketika saya membacanya.
Ilustrasi sebagai pelengkap designed by AI
Tapi saya seperti biasa, suka membantah. Dan di atas teks - teks yang seolah bergerak - gerak itu, saya melontar:
"Saya tahu bahwa saya itu ada. Buktinya apa? Saya merasakan tubuh saya, saya mendengar suara-suara, melihat bermacam-macam benda dan beragam makhluk lalu lalang di depan saya. Sesekali saat ke pasar pagi, saya tak hanya mencium bau amis dari daging dan ikan segar atau bau mulut dari para suami yang belum sikat gigi tapi bangun langsung mengantarkan istri-istri mereka yang bahenol itu ke pasar, tapi saya juga menyaksikan bagaimana para istri dan ibu-ibu muda itu tampil menggoda dengan pakaian mereka yang tipis dan ketat. Melihat itu, saya biasanya membayangkan bagaimana suami-suami mereka mulai merayu dengan nakal di malam hari dan, ah, saya benci untuk mengatakannya: sesuatu lalu membawa saya tembus ke balik baju dan celmek-celmek mereka yang tipis itu, mempertontonkan tubuh dan paha mereka yang halus dan bening. Dan ketika mereka mulai duduk lalu tanpa sengaja mata saya tertuju ke situ, semuanya menjadi hidup dan menari-nari dan tampil menggeliat di dalam kepala. Awet hingga beberapa sulit dilupakan. Dan kesemuanya itu langsung membuat saya seketika ingin kawin karena sesuatu di balik celana tiba-tiba teracung memberontak."
Sampai di sini, saya saksikan Descartes mulai menggeleng-gelengkan kepala, Plato tersenyum getir. Kant menatap sedih, katanya: "Nafsumu itu, Pat adalah heteronomi. Kau diperbudak oleh dorongan indrawi. Itu bukan kebebasan. Kebebasan sejati adalah otonomi: ketika akal budimu memerintah, bukan celanamu." Dan sebagaiman biasa, Schopenhauer bergumam dengan seringai yang tak biasa: ahaa, penderitaan dimulai!! Tapi saya terus melanjutkan bantahan saya:
"Dan jangan lupa ya, Pakde - Pakde filsuf, lain kali , saya juga suka untuk duduk hening dan menikmati makanan yang saya makan dengan cara yang saksama. Lalu apa Anda tahu, kalau berak, saya suka melakukannya sambil bermeditasi, tentu dengan ketenangan yang tak terjelaskan!"
Ngos-ngosan saya membela diri atas penghakiman kejam para filsuf gabut itu. Tapi seperti petir yang bergeladak di musim kemarau, argumen saya begitu mudah ditepis. Semuanya kompak bersuara: "Iya, yang bukan manusia juga melakukan semua yang kamu sebutkan itu!!!"
Belum sempat saya tanyakan apakah hewan kalau berak itu bisa sambil bermeditasi, para filsuf itu keburu pergi. Mungkin pikiran saya dinilai terlalu condong ke fantasi liar daripada dipakai untuk bernalar. Cogito ergo ngaceng!! Sial, saya geram, tak terpuaskan. Tapi ketika Plato akan menembus kabut waktu lalu menerobos kembali ke Athena dan Descartes buru-buru terbang ke Prancis tanpa pamit, Schopenhauerlah satu-satunya yang ternyata memberikan kata-kata perpisahan terkahir yang absurd dan getir. Bahwa katanya, hidup memang hanyalah penderitaan, tak terkecuali satu hal pun. Sambil mengelus-elus anjing pudel di gendongannya dengan tragis beliau menjelaskan:
"Satu-satunya yang membuat penderitaan itu hilang, hanya ketika kau tidak lagi menginginkan apa pun. Tapi sulit membayangkan seorang manusia sepertimu hidup tanpa menginginkan apa-apa, bukan? Maka anggaplah penderitaan itu sebagai sesuatu yang wajar jika kau tidak ingin mengorbankan keinginan-keinginanmu itu." Sungguh, Kawan, ingin kuberi dia pelukan perpisahan tapi anjing pudelnya seolah tak membolehkan dekat-dekat dengan tuannya, ia menyalak: aughh...aughh...eghrrr..Dan Schopenhauer pun segera bergegas ke Jerman.
Nah,,,lalu karena sadar akan inteligensi saya yang jauh di bawah rata-rata itu terutama setelah diledek dan disemprot habis - habisan oleh para filsuf, saya pun pindah haluan ke jenis bacaan yang membumikan teori-teori rumit itu. Hingga belakangan ini, terjunlah saya ke dalam bidang sastra. Maka berbagai karya sastra seperti novel, puisi, dan cerpen akhirnya banyak mengisi waktu luang saya.
Dan sialnya, Kawan, bahkan di dunia sastra pun saya masih kena semprot. Sesekali di sana saya menjumpai Andrea Hirata dan memperingatkan saya dengan pelajaran moralnya yang nomor kesekian: ''Kalau ke pasar, jangan suka lihat ibu-ibu muda dan istri orang!!''
Hingga bagi saya, karya sastra itu layaknya santapan nikmat yang bahan-bahannya diturunkan langsung dari menara gading sana. Seolah kepada saya secara pribadi para filsuf dan pemikir dari berbagai generasi itu berkata: ''Ok, we make it easy for you, Pat. Nih, baca dulu yang ringan - ringan!'' Maka kerap hadir di meja saya beberapa novel karya Albert Camus, Dostoevsky, dan Leo Tolstoy. Mereka membalut pikiran mereka dengan plot, dengan adegan, dan dengan konflik. Saya suka membacanya, terutama di waktu luang. Kadang di kamar, kadang kalau sedang istirahat di tempat kerja, dan kadang juga di warkop.
Dan yang di warkop itu, Kawan, saya agak jengkel dengan diri saya sendiri. Karena bagaimana tidak, saat ini hanya kopi yang bisa menemani bacaan saya. Beda dulu. Dulu baca novel dan puisi sambil ngopi, tiap seruput diikuti kepulan asap rokok. Nikmatnya, behh... Tapi seperti juga sebuah hubungan, akan sehat kalau tidak ada orang ketiga. Dan orang ketiga itu adalah rokok. Sekarang tinggal saya yang terbang melayang di dalam cerita, lalu sesekali keluar untuk seruput kopi.
Tapi ya, sebagaimana umumnya pikiran manusia, pikiran saya juga suka sekali berontak terhadap hal baik yang sudah nyaman untuk saya lakukan. Saat membaca novel atau cerpen, pikiran saya suka mengalihkan fokus ke pertanyaan atau pernyataan seperti ini:
"Pat, kamu kan orang susah ya. Apa kamu tidak bisa lihat, kamu membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak akan membawamu keluar dari kesusahanmu? Coba dong kamu pelajari skill-skill terapan atau ilmu-ilmu teknik yang saat ini banyak dibutuhkan orang. Kamu bisa belajar matematika, saat ini banyak dibutuhkan guru privat matematika. Atau kamu bisa mengasah skill baru di bidang teknologi, banyak tenaga IT dibutuhkan saat ini. Atauu,,, setidaknya belajarlah bahasa inggris biar bisa keren seperti anak - anak Jaksel. Membaca karya sastra, apa manfaatnya, Pat?"
Dan kadang saya sadar, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh suara-suara dalam pikiran itu. Di tengah zaman industri dan teknologi yang kian maju, membaca karya sastra seolah menjadi aktivitas buang-buang waktu. Orang umumnya akan disarankan untuk lebih banyak membaca karya ilmiah atau buku akademis sesuai bidang keahlian masing-masing. Guru di sekolah, orang tua di rumah, atasan di tempat kerja, atau bahkan teman di meja tongkrongan akan menyarankan kita untuk banyak membaca karya ilmiah, ikut seminar, belajar bahasa asing atau kursus teknologi yang sifatnya eksakta dan terapan. Alih-alih membenamkan diri dalam buku sastra, melek pada ilmu-ilmu eksakta seperti itu yang sedang dituntut zaman akan membuat kita mampu bertahan dan tidak tergilas persaingan. Dan mungkin, mengurangi membaca karya sastra bisa menghindari skenario-skenario liar yang sering muncul dalam pikiran dengan dalil menghidupkan imajinasi.
Namun, apakah memang benar begitu? Sialnya, jawabannya adalah iya. Tak dapat dipungkiri, kita memang harus melek dengan ilmu-ilmu eksakta yang mendukung kompetensi kita masing-masing sesuai kebutuhan zaman. Tapi bukan berarti membaca karya sastra, umpamanya novel atau cerpen bisa dianggap begitu saja sebagai aktivitas buang-buang waktu. Karena sekuat apa pun narasi dan tuntutan zaman, sastra tetap memiliki banyak manfaat terhadap kehidupan manusia, terutama karya sastra yang serius karena kalau yang picisan memang hanya akan membuat imajinasi kita selalu liar seperti saya di atas tadi. Upss, haha.
Lalu apa manfaat membaca karya sastra berupa novel, cerpen atau puisi itu? Manfaatnya adalah memperhalus akal budi dan membuka pikiran pembaca terhadap begitu banyak sudut pandang kehidupan. Membaca novel, misalnya. Sebuah novel serius yang bagus tentu memiliki cerita yang bagus pula. Dan cerita yang bagus biasanya dibangun di atas satu atau lebih konflik. Entah itu konflik batin atau konflik antar tokoh.
Artinya, sebuah novel yang bagus akan menunjukkan kepada kita bagaimana sang tokoh utama menghadapi tantangan, menyelesaikan masalahnya, hingga akhirnya keinginannya tercapai. Kita diajak masuk ke kepala tokoh: merasakan ragunya, menimbang pilihannya, menanggung akibatnya.
Sehingga kalau boleh disimpulkan, membaca karya sastra di zaman yang mengedepankan ilmu eksakta mungkin tidak akan membuat saldo ATM kita bertambah, tidak juga membuat karier kita menanjak atau IQ kita naik lima puluh poin. Tapi dengan membaca karya sastra, kita jadi bertanya: lalu apa maknanya semua ini bagiku? Apa yang harus aku lakukan saat saldoku kosong? Bagaimana cara agar karirku naik? Atau apa yang harus kulakukan agar kampus favorit menerimaku? Bisakah aku tetap bahagia meski seumur hidup akan membujang? Eitsss, hehe.
Betul! Karena kalau kita telaah lebih jauh, pertanyaan-pertanyaan itu kerap menjadi bahan konflik dalam sebuah cerita sastra. Dan sang tokoh yang bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menunjukkan kepada kita bagaimana caranya menghadapi masalah. Bagaimana menjawab pertanyaan itu tidak dengan teori, tapi langsung dengan laku, dengan hasil. Saldo bertambah, karier naik, diterima di kampus favorit atau, ehem, rembulan turun ke bumi lalu bilang: "Oh, di bawah situ. Baiklah, sinarku ta'kan memudar hanya karena bersamamu aku berikrar. Berbahagialah bersamaku!"
Dan yang terakhir itu, Bung, adalah mimpi yang selamanya akan jadi mimpi. Coba Bung pikir, apa iya kalau padanya kerap kita tumpahkan rindu, kelak dia akan datang walau untuk bertamu? Tidak! Realita juga tidak seindah kisah - kisah romansa dalam novel dan cerita - cerita terkenal yang kita baca!
Tapi toh dengan kata lain, membaca karya sastra itu tidak hanya akan menambah kosakata baru yang membuat kita pede dan jadi lebih menarik saat ngobrol, tapi juga memberikan kita sudut pandang lain dalam melihat dan menjalani hidup.
Ia melatih empati, mengasah intuisi, dan mengingatkan kita bahwa di balik angka-angka eksakta, hidup ini tetap digerakkan oleh manusia dengan segala luka, harapan, dan pilihannya.
Jadi, monggo saja untuk melek dengan keilmuannya masing-masing. Bangun jembatannya. Bikin pabriknya. Nyalakan mesin-mesinnya. Tapi sesekali, bukalah novel. Bacalah puisi. Biar kita paham bahwa semua rumus, semua mesin, bahkan semua upah yang kita terima pada akhirnya hanyalah alat. Alat untuk apa? Alat untuk hidup. Dan hidup, kau tahu, tak pernah bisa kalau hanya dihitung pakai kalkulator dan rumus-rumus. Hidup tidak pernah kaku dan presisi, tapi lentur dan dinamis. Maka dalam setiap perjalanannya, hidup perlu untuk ditanyakan, sesekali dirayakan, dan kadang memang harus ditangisi. Karena pada akhirnya, percuma manusia pintar membangun gedung yang mampu menembus langit kalau ia sendiri lupa bagaimana caranya menunduk untuk menyapa manusia yang ada di bawahnya. Bukankah begitu, Bung Ferguso? Terima kasih sudah membaca, peace out!

Posting Komentar untuk "Dari Pasar Pagi Untuk Para Filsuf Warung Kopi: Sebuah Celetukan Ringan Tentang Manfaat Membaca Karya Sastra"