LAKIBERCERITA

Bu Wi dan Resolusi Terakhirnya yang Tak Pernah Terwujud

"Jalanan adalah karya seni instalasi yang sempurna. Ia lurus, berhiaskan lampu dan bunga, menikung, menanjak, dan kadang-kadang buntu. Ia mengarahkan, meloloskan, menjebak, dan kadang menyesatkan.
Jalan tempat berparade, pamer kejayaan, juga tempat menggelandang. Jalan tempat lari dari kenyataan, tempat mencari nafkah. Orang hilir mudik di jalan, mereka bergerak indah, melamun, riang, dan berduyun-duyun, siapa mereka? Ke manakah mereka?
Jalanan seperti panggung dengan kemungkinan konfigurasi dekorasi yang amat luas. Semua kemungkinan seni dapat ditampilkan di jalanan. Seniman jalanan menghadapi tantangan seni terbesar."

                               _Andrea Hirata, _Edensor_



Dan di sana, di salah satu sudut panggung yang tak pernah disorot lampu itu, tepat pada mulut gang sempit yang mengarah langsung ke jalan utama, berdirilah sebuah warung kecil berukuran 1,5 x 3 meter. Di situlah salah seorang seniman hidup memainkan perannya yang terakhir. Sebagaimana orang-orang memanggilnya, saya juga memanggil beliau dengan sebutan yang sama, Bu Wi.

Beliau adalah seorang janda tua yang telah lama ditinggal pergi oleh sang suami. Usianya sudah menginjak tujuh puluh tahun. Badannya kurus dengan seluruh rambutnya yang sudah memutih. Pada usia dan kondisinya yang demikian itu, Bu Wi sebenarnya sudah tidak lagi kuat untuk melayani pelanggan di warung kecilnya yang juga menjadi salah satu alasan kenapa warungnya hanya buka pada sore hari. Belum lagi rumahnya cukup jauh dari warung tempat dia mengais rezeki dan kalau pulang ke rumah, ia berjalan kaki sejauh 3 kilometer.

"Ya, sesekali kalau kebetulan bertemu orang baik yang kenal dengan saya, saya akan diantarkan sampai ke rumah, Dek. Kalau nggak ya full jalan kaki, setiap hari." Papar Bu Wi tempo hari ketika saya bertanya tentang alamat di mana ia tinggal.


Ilustrasi by AI

Saya sendiri kenal dengan Bu Wi dan warung kecilnya ini sudah berjalan hampir dua tahun. Saya mengetahui keberadaan warung kecil miliknya ini dari seorang teman yang memang biasa berlangganan di situ. Meskipun berukuran sangat kecil, warungnya mampu menyediakan berbagai macam makanan dan minuman. Dari nasi bungkus yang masih segar dan hangat, jajanan kecil, gorengan, buah-buahan, umbian rebus, hingga beragam merek rokok. Ada juga minuman. Mulai dari minuman yang lumrah di setiap warung seperti air putih, kopi, teh, hingga wedang jahe. Dan yang paling penting, pelanggannya juga cukup banyak. Kebanyakan adalah orang-orang kecil seperti saya yang dituntut hemat oleh nasib, sehingga warung kecil seperti milik Bu Wi dengan segala ketersediaannya, selalu menjadi pilihan.

Karena sudah lama menjadi pelanggan beliau, saya pun jadi lebih akrab dengannya. Malah terkadang, saya suka bertanya kepadanya tentang berapa pendapatan harian yang bisa beliau dapat dari warung kecilnya itu. Lain kali saya juga ingin tahu, kenapa Bu Wi menjual kopi dengan harga yang sangat murah, padahal saya rasa kopinya tidak kalah enak dengan kopi yang biasa saya minum di warkop-warkop pada umumnya tapi harganya bisa hanya setengah dari harga kopi di warkop-warkop itu. Kalau di sana biasanya dibanderol lima ribu rupiah untuk satu cangkir, Bu Wi akan menjual miliknya seharga dua ribu lima ratus rupiah. Untuk ini, Bu Wi akan menjawab bahwa dengan menerapkan harga yang murah, itu akan menarik pelanggan-pelanggan kecil yang tidak mampu membeli di warung-warung lain karena harganya yang semakin mencekik. Selain itu beliau juga beralasan bahwa harga yang murah diharapkan bisa meminimalisir kemungkinan orang akan berutang.

Namun sayang sekali, meski sudah menjual dengan harga yang sangat murah, orang-orang, tanpa merasa kasihan, datang ke warung kecilnya. Mereka makan dan minum apapun yang mereka suka lalu dengan janji-janji, mereka berkata bahwa mereka akan bayar nanti. Pernah suatu kali saya mendengar cerita dari Bu Wi sendiri bahwa beberapa orang yang suka berutang di warungnya itu, jumlahnya sudah menumpuk hingga jutaan rupiah. Paling tinggi berjumlah empat juta lima ratus, berutang selama hampir tiga tahun tidak dibayar. Miris, sangat miris!

Suatu hari, tepat ketika satu minggu setelah tahun baru, saya pergi berkunjung ke warung Bu Wi. Setelah basa-basi mengucapkan selamat tahun baru, saya iseng bertanya tentang apa yang menjadi resolusi Bu Wi tahun ini. Sambil menarik napas yang panjang dan dengan nada yang keluh, beliau berkata bahwa ia tidak memiliki banyak harapan. Bukan karena usianya yang sudah tua maka seolah harapan-harapan itu tidak berguna, tapi bahkan untuk satu-satunya harapan yang ia pegang saat ini, ia ragu bahwa itu akan terwujud. Satu harapannya yang terakhir itu adalah agar pelanggan warungnya yang suka berutang, segera melunasi utang-utang mereka. Setelah utang-utang itu lunas, ia akan pensiun.

"Sudah tidak kuat lagi, Dek. Apalagi modal semakin menipis. Selama jualan ini, selama itu pula tidak mendapatkan untung apa-apa." Bu Wi menjelaskan dengan nada yang serak.

"Masak sih, Bu Wi?" Saya ragu.

"Bagaimana mau untung, Dek? Orang selalu datang ke sini. Mereka makan, minum, ambil rokok, pesan jahe, pesan kopi, ambil buah-buahan tapi cuma mau ambil dan makan saja. Bilangnya bayar nanti, besok atau bulan depan. Tapi hari berlalu, bulan berganti, janji-janji mereka hilang ditelan bumi." Pilu menelan suaranya hingga hampir tak terdengar.

Dan benar saja. Apa yang telah dikatakannya benar-benar menjadi harapannya yang terakhir sekaligus adalah harapan yang tidak pernah terwujud. Sebab satu minggu setelah pertemuan itu, saya dikabarkan bahwa Bu Wi telah meninggal dunia. Kabar itu semakin diperjelas dengan warung kecilnya yang tidak lagi menampilkan keramaian seperti biasa. Jika setiap sore warungnya ramai dikunjungi pelanggan, sekarang tampak seperti panggung teater yang selesai mementaskan satu pertunjukan: sepi tanpa satupun tanda-tanda kehidupan.

Suatu kali, saya akhirnya bisa bertemu dengan salah satu orang yang paling dekat dengan Bu Wi. Beliau adalah suplier nasi bungkus untuk warung Bu Wi sekaligus menjadi temannya dalam berbagi keluh kesah. Dan ketika saya bertanya apakah orang-orang yang selama ini berutang di warung Bu Wi telah membayar utang-utang mereka, beliau mengatakan bahwa dari tiga belas orang yang berutang, hanya satu orang yang sudah membayar. Beliau mengetahui itu dari cerita Bu Wi sendiri saat mengantarkan nasi bungkus pesanannya.

Sering, jika lewat di depan warungnya yang hanya meninggalkan kenangan tentangnya itu, saya kerap tertunduk lesu. Janda tua renta yang mencoba bertahan hidup dengan satu-satunya cara yang ia bisa, tapi satu-satunya cara itupun tersumbat oleh keegoisan dan sikap mementingkan diri sendiri dari para pelanggannya. Mereka berutang namun enggan membayar.
***

Refleksi

Apa yang bisa dipetik dari kisah Bu Wi pertama-tama adalah bahwa beliau merupakan orang yang memiliki satu keyakinan yang seharusnya tak perlu ia yakini dan ia pegang terus sepanjang sisa hidupnya. Keyakinan itu adalah bahwa orang-orang yang saban hari kerap datang ke warung kecilnya, kelak akan membayar utang-utang mereka sesuai dengan janji dan kesepakatan yang pernah mereka buat: makan dan minum dulu sepuasnya, pesan kopi dan rokok sebanyak mungkin lalu seruput dan isap di tempat dan mereka akan membayar saat terima gaji bulan depan. Tapi yang tak pernah Bu Wi sangka adalah janji-janji yang mereka koarkan sebenarnya sudah terlupakan saat itu juga, hilang membubung bersama asap yang keluar dari mulut manis mereka atau mungkin ikut masuk ke dalam perut bersama dengan makanan dan minuman yang mereka makan di tempat itu lalu keluar sebagai feses dengan bau busuk yang tak tertahankan untuk kemudian ikut terkubur bersama di dalam tanah.

Sebab hingga hari kematiannya, tak seorangpun dari mereka datang ke sana, mengatakan kepada keluarganya bahwa lebih dari berbelasungkawa, kedatangan mereka juga untuk melunasi utang-utang mereka selama ini. Tapi bahkan hanya untuk sekadar datang melayat, mereka tidak menampakkan sama sekali batang hidungnya di rumah duka. Malah dengan kematiannya, mereka senang luar biasa sebab dengan begitu utang mereka akan ikut terkubur ke dalam tanah bersama dengan jasad Bu Wi. Kalau pun anak-anak Bu Wi tahu bahwa ibu mereka memiliki piutang yang cukup banyak pada orang-orang itu, mereka, anak-anaknya itu tidak tahu ke mana harus menagihnya. Sebab orang-orang itu pun hilang entah ke mana sesaat setelah warung yang menjadi tempat biasa mereka berutang sudah tidak lagi menjajakan dagangan karena pemiliknya sudah meninggal dunia.

Apakah mereka akan pergi ke tempat yang lain lalu mencoba berinang dan mengembangbiakkan lagi tipu daya yang sama di sana? Bisa jadi. Atau apakah kemungkinan terbaiknya barangkali adalah mereka akan pergi ke sudut-sudut ruangan kecil di rumahnya lalu menangis tersedu-sedu, menyesali kelakuan mereka yang begitu tega terhadap janda tua, menipunya dengan cara yang benar-benar memilukan: berutang dan tidak pernah mau membayar? Ah, sangsikan saja kemungkinan terbaik itu! Bagaimanapun, mempercayai bahwa orang-orang yang jahat itu bisa menyesali perbuatan-perbuatan mereka, sama halnya dengan seekor rusa sekarat yang berharap bahwa serigala yang kelaparan di hadapannya tiba-tiba berlinang air mata karena kasihan lalu melepaskannya pergi. Mustahil!

Tapi mungkin pertanyaan lain yang tidak kalah penting yang perlu kita tanyakan sekarang adalah kenapa bisa ada orang yang sampai sejahat itu? Kenapa mereka bisa menimbulkan masalah sampai akhirnya menyeret dan merugikan orang lain seperti kisah Bu Wi? 

Well, dengan tidak bermaksud bahwa saya pastilah orang yang lebih baik dalam segala hal, tapi saya harus katakan bahwa jawaban untuk pertanyaan itu adalah karena lunturnya sikap dan rasa tanggung jawab dari dalam diri seseorang, baik itu tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kaitannya dalam relasi dengan orang lain dan lingkungan sekitar. Ketika rasa tanggung jawab hilang dari dalam diri seseorang, percayalah, bahkan jika dia adalah pewaris tunggal harta kekayaan orang tuanya, pasti akan tiba waktu baginya untuk terjun bebas dari langit kejayaan, terperosok dalam jurang nestapa dan kemelaratan karena tidak mau mengambil tanggung jawab untuk mempertahankan dan meneruskan kekayaan orang tuanya itu. Sebaliknya, seseorang boleh saja tidak memiliki hak istimewa apapun sejak ia lahir. Tapi ketika rasa tanggung jawab menjadi mesin penggerak dalam dirinya untuk setiap tindak tanduknya, maka jangan heran namanya akan berjejer dengan tokoh-tokoh berpengaruh dan taipan-taipan sukses kelas dunia.


Tapi sayangnya, orang-orang di warung yang terlibat utang dengan Bu Wi adalah produk gagal dari pernyataan terakhir di atas. Dengan berbagai alasan: tekanan hidup, himpitan ekonomi dan terdesak berbagai kebutuhan, mereka enggan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri. Dalam aksinya, mereka menggunakan beragam alasan, trik-trik dan tipu muslihat. Tapi walau bagaimana cerdik seorang aktor dalam memainkan peran, penonton tetap tahu bahwa itu adalah akting belaka. Alasan mereka tidak pernah masuk akal! Mereka mengatakan bahwa belum bisa membayar karena belum terpikirkan. Ada pula yang berdalih bahwa saat ini belum ada uang. Yang lain mengatakan, "Ya saya masih ingat, nanti saya bayar" dan beragam alasan lain yang sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat. Sebab yang namanya utang adalah sebuah kewajiban. Ia bukan sekadar kewajiban biasa, melainkan harus diprioritaskan di atas kewajiban dan kepentingan yang lain karena kita sudah terikat dengan kata-kata dan janji-janji yang telah kita buat.

Belum menemukan jalan keluar? Ah, itu alasan yang lain lagi. Akan selalu ada jalan keluar kalau memang ada niat, termasuk jika niat itu untuk membayar utang. Tapi mereka, yang sekarang lebih layak disebut sebagai debitur nakal daripada pelanggan tetap itu, mungkin memang berniat yang lain, yaitu merampok dan memutus urat nadi kehidupan Bu Wi dengan cara yang paling memilukan, berutang dan tak mau membayar. Dan dengan cara yang paling elegan pula, dengan seringai yang benar-benar tidak elok dilihat, mereka menghiburnya dengan janji-janji yang semakin hari menjadi semakin basi. Ketika mereka ditagih, mereka justru semakin banyak drama, membuat trik dan janji-janji yang baru lagi, dan bahkan sebagian di antara mereka akan menjawab dengan nada beringas. Lupa mereka bahwa di awal ketika mereka meminta, orang lain bisa saja ada dalam kesulitan serupa. Tapi karena mereka meminta dan membujuk dengan rayuan manis dan wajah memelas minta belas kasihan, orang pun akhirnya luluh dan memberi mereka kesempatan.

Ya, tapi demikianlah, menagih utang kepada orang-orang seperti mereka seumpama mengacak-acak seonggok tai: hanya akan membuatnya semakin bau, busuk lalu menyengat menusuk ke seluruh tubuh siapa saja yang melintas di situ, termasuk orang yang telah memberi mereka napas saat mereka membutuhkan pinjaman.

Duh, naas sekali nasibmu, Bu Wi, Bu Wi! Padahal jika saja ada barang secuil rasa tanggung jawab dalam diri mereka, mungkin berlebihan bila mengatakan bahwa mereka akan berdampingan dengan taipan dan konglomerat kelas dunia. Tapi setidaknya, dengan sedikit rasa tanggung jawab yang dimiliki, mereka tidak jadi menambah beban sesama orang susah sepertimu.

Tapi, ah sudahlah... Kita toh tak boleh terlalu jauh dalam menghakimi dan menilai mereka. Sebab sebagaimana yang dikatakan Andrea Hirata pada bagian epigraf di awal esai ini, memang demikianlah jalanan: adalah panggung kehidupan yang mempertemukan beragam orang. Beragam orang dengan beragam karakter, keyakinan dan motivasi. 

Di jalanan, setiap orang sudah siap memainkan peran mereka masing-masing. Kita bahkan tidak benar-benar tahu mana yang murni antagonis dan mana yang berperan sebagai protagonis. Seseorang berwajah garang dengan nada dan seringai yang suka berteriak, bisa saja adalah protagonis berbudi luhur. Tapi karena sutradara menghendakinya berakting seperti itu, maka ia tak bisa membantah. Demikian sebaliknya, seseorang bisa begitu ramah dengan wajahnya yang begitu polos. Ketika berjalan, dia akan melambai-lambaikan tangan sambil melemparkan senyum cerianya yang paling indah. Saat kita berasumsi bahwa dia adalah protagonis yang paling agung, bisa saja kita keliru. Mungkin saja dia adalah seorang politikus kelas kakap. Dan di jalanan, sang sutradara menghendakinya berakting ramah demi mendaur banyak suara.

Bukan berarti saya mencurigai Bu Wi. Tapi di panggung ini, kita memang harus belajar waspada. Sebab tak bisa dipungkiri, ketika jalanan adalah panggung kehidupan dengan beragam kemungkinan, kita pun tak jarang akan jadi seperti Bu Wi. Kita mudah percaya dengan segala pertunjukan, gampang tertipu dengan segala akting dan segala peranan yang dimainkan. Hingga ketika panggung ditutup, tirai diturunkan dan penonton membubarkan diri, tinggallah kita sendiri yang berdiri terpaku, gamang menyaksikan sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik topeng, kini tampil dalam wujudnya yang paling seram dan menakutkan.

Dan di panggung kehidupan bernama jalanan, apakah kita adalah seorang antagonis atau protagonis, itu terserah. Tapi yang jelas, jalanan akan selalu mengajarkan kita untuk tidak menutup mata atau pura-pura buta melihat Bu Wi - Bu Wi yang lain dan seluruh kehidupan yang mengitari mereka.

***


Posting Komentar untuk "Bu Wi dan Resolusi Terakhirnya yang Tak Pernah Terwujud"