Berdamai dengan Masa Lalu, Semangat Menatap Masa Depan

Mari kita asumsikan kalau kamu saat ini sedang dalam fase jomblo paling ngenes tingkat dewa.

Ya kamu, yang sebagaimana lelaki pada umumnya, juga yakin dan percaya bahwa hidup dengan memiliki minimal satu orang kekasih saja adalah satu jenis kebahagiaan yang seharusnya tidak boleh dilewatkan oleh seseorang selama dia hidup. Dan kamu juga seharuanya tak boleh hidup sendiri hingga akhir hayat.


Namun hingga sekarang, kamu tak kunjung menemukan seorangpun yang sekiranya mau menjadi tempat tambatnya hatimu yang sudah lama berlayar sendiri di lautan lepas itu. Bukan sepenuhnya karena ditolak, tapi karena kamu sendiri selalu enggan untuk mencari. Tidak lain karena selalu saja ada alasan yang kamu temukan dalam dirimu ketika hendak membuka hubungan dengan lawan jenis.


Alhasil hatimu selalu kosong melompong, sepi dan dingin seperti embunan salju. Hidupmu kemudian tidak bersemangat dan kebanyakan hanya berlalu dengan selalu berpura - pura bahagia saat melihat orang lain bahagia bersama pasangannya.


"Ah, sungguh suatu pengalaman hidup yang sangat naas," gerutumu di suatu senja yang jingga di depan teras kamar kosmu sembari membuang putung rokok yang habis terbakar di mulutmu.


Hingga akhirnya, ketika malam menjelang, kamu mulai masuk ke dalam kamarmu yang kecil itu dengan diiringi pencahayaannya yang selalu redup. Sesekali hatimu mendukung tindakanmu ketika mematikan lampu utama dengan berkata, "biar sekalian redup seperti masa depanku."


Dan kini kamu mulai duduk berbaring di tembok dengan mata menatap kosong ke depan jendela yang entah kenapa tak memiliki daun sebagaimana jendela kamar pada umumnya. Kamu lagi - lagi menemukan justifikasi untuk yang satu ini: "barangkali pemiliki kontrakan ini sengaja agar aku bisa belajar supaya selalu membuka diri terhadap sesama." 


"Taik!," sambatmu lagi.


Dan, di tengah cahaya yang redup, jendela yang selalu terbuka dengan ditemani suara kipas tua dengan bunyi khas barang rongsokan, kamu mulai membayangkan betapa indahnya hidup jika saja kamu terlahir bukan kamu yang sekarang, melainkan terlahir tanpa segala kekurangan dengan dipenuhi segala kelebihan sebagaimana orang lain yang selalu kamu perhatikan di mana saja kamu melihatnya. Kamu mulai membayangkan, mungkin saat ini kamu sudah memiliki, bahkan bukan hanya satu, tapi berapa saja yang kamu mau seandainya hidupmu berlumuran harta dan kekayaan yang cukup sejak lahir. 


Ilustrated by AI


Kemana kamu ingin pergi pada akhir pekan, akan ada yang menemani. Apakah kamu sudah makan atau belum, selalu ada yang menanyakan. Dan dengan begitu, hanphonemu tidak lagi sunyi senyap tanpa notifikasi (kecuali selama ini notifikasi dari provider langganan kamu yang memberitahu kamu untuk segera membayar paket darurat). 

Singkatnya, kamu membayangkan bahwa dunia akan tampak seperti surga manakala hari - harimu berlalu seperti ini: selalu ada yang menanyakan kabar, sedang apa kamu sekarang, sudah makan ataukah belum, baiknya pergi ke mana malam minggu nanti dan deretan pertanyaan lain yang membuat kamu merasa tidak sendiri di alam semesta ini.


Tapi kamu sadar, kamu tidak memiliki siapapun. Terutama tidak memiliki dia yang kamu bayangkan sebagai seorang kekasih. Jadi tidak ada yang menanyakan banyak hal, tidak ada yang meramaikan notifikasi hanphone dan tidak ada yang akan mengajak ke mana di akhir pekan.


Satu kebahagiaan yang seharusnya kamu rasakan saat ini, tidak kamu miliki. Padahal teman - temanmu memilikinya, orang di sekitarmu memilikinya, bahkan orang yang jauh berada di bawah usiamu (karena sekarang kamu sudah kepala tiga menjelang empat), mereka sudah ada yang bahagianya double karena sudah punya momongan juga.


Dan yaps, sebagaimana kamu selalu menemukan pembenaran dan pembelaan atas semua yang kamu perhatikan di sekelilingmu, kamu juga mampu menemukan siapa yang menjadi kambing hitam atas ketidakbahagiaanmu karena membujang hingga lewat seperempat abad umurmu ini. 


Dan biar saya tebak, siapa yang kau jadikan kambing hitamnya adalah orang tuamu. 


Kamu merasa bahwa sebagian besar alasan kenapa kamu tidak bisa memiliki satu jenis kebahagian sebagaimana lelaki seumuran dan senormal kamu adalah segala kekurangan yang kamu miliki. Dan segala kekurangan yang kamu miliki adalah warisan dari mereka, hasil dari perbuatan mereka --orang tua yang membuatmu ada, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin selamanya kamu akan menderita.


Dan menurutmu, kamu seharusnya tak perlu dilahirkan kalau seumur hidup harus menelan banyak pil pahit, kalau hidupmu harus dihabiskan hanya untuk meratapi nasib dan menyadari, betapa menderitanya hidup ini.   


Tapi tunggu! 


Sebelum kamu sampai kebabalasan, dari menyalahkan orang tua hingga mungkin akan mengutuk seluruh jagat raya dan Sang Pencipta, mari kita luruskan pikiranmu bahwa memang, ada sesuatu yang lucu dalam kehidupan ini yaitu ketika kamu menyadari bahwa beberapa hal yang terjadi dalam hidupmu selama ini merupakan hasil dari perbuatan orang lain. Entah itu orang tua, saudara, teman, kenalan atau bahkan rekan kerja. 


Masalahnya adalah kadang, hasil - hasil tersebut hadir dalam bentuk hal - hal yang mengganggu kehidupanmu, dalam bentuk hal - hal yang bisa merenggut kebahagian yang seharusnya kamu rasakan sebagaimana orang lain merasakannya.


Sedih memang menjadi dirimu seperti yang di atas, menyadari dan membayangkan bahwa seumur hidup kamu akan habiskan masa di dunia ini hanya seorang diri. Tanpa seorang kekasih, juga mungkin teman - teman yang kebanyakan sudah pergi dan membangun kehidupan mereka sendiri - sendiri. 


Kamu sendiri, dan kamu merasa sepi.


Dan kita juga sepakat bahwa ya, memang sebagian besar apa yang kita alami saat ini itu banyak disebabkan oleh orang lain. Kita lahir tak kita minta, menjadi seperti sebagaimana kita sekarang tak pernah kita pilih. Namun semua akibatnya kita yang tanggung.


Akan tetapi, kita ternyata tidak sendirian. 


Ada begitu banyak orang di luar sana yang merasakan hal yang sama --mengalami pengalaman hidup bagaimana mereka menderita tapi bukan mereka sendiri yang menyebabkan penderitaan itu. Ada yang karena perbuatan orang tua, saudara, teman atau orang terdekat mereka. Bentuknya macam - macam. Dan salah satunya sama seperti sebagaimana penderitaanmu: membujang karena tidak memiliki apa - apa dan karena bukan siapa - siapa.


Bahwa penderitaan kita seringkali disebabkan oleh masa lalu, dan masa lalu itu melibatkan orang lain yang mungkin porsinya lebih besar dalam menentukan penderitaan yang kita alami saat ini, tampaknya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk merubah semuanya. Waktu tidak bisa diputar kembali walau bagaimanapun kita menginginkan agar seharusnya semua ini tidak terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, kata orang.

Tapi!

Seperti kata Bhrian Krisna dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati:

Nasi memang sudah menjadi bubur, tapi tugasmu adalah bagaimana caranya agar bubur itu menjadi enak."

Jadi kalau masalahmu adalah jones alias jomblo ngenes, tugasmu adalah bagaimana caranya agar jomblomu tetap membuatmu bahagia sambil tetap memperbaiki diri agar menjadi lebih siap ketika siapa yang memang ditakdirkan untukmu datang mendekat.


Karena kalau kita bayangkan, mencari jodoh itu seperti kamu menangkap kupu - kupu. Saat kamu dekati, ia akan terbang. Tapi cara terbaik agar kamu memilikinya adalah membuat taman bunga di sekitar rumahmu, maka mungkin kupu - kupu yang kamu inginkan akan datang dan hinggap di sana. Kalau ternyata tidak ada kupu - kupu yang datang, kamu toh tetap memiliki taman bungah yang indah merekah. Begitu kata orang. 


Jadi, mungkin sudah saatnya untuk hidup di masa sekarang, tidak membuat diri terjebak dalam masa lalu yang tidak bisa dirubah, apalagi hanya karena satu alasan yang sebenarnya bisa diatasi. Sudah saatnya untuk berbenah, mengarahkan pandangan ke depan.


Hiduplah selalu sambil membawa tujuan dan harapan, karena lagi - lagi orang berkata bahwa orang yang dalam hidupnya tidak memiliki tujuan dan harapan tidak lebih dari seonggok mayat. 

Mari berdamai dengan kenyataan dengan merima segala kekurangan. Tata diri dengan baik, dan saatnya melangkah maju. Adios ad meliora!!



Posting Komentar untuk "Berdamai dengan Masa Lalu, Semangat Menatap Masa Depan"