Bunuh Diri Itu Adalah Ilusi, Bukan Sebuah Solusi

Belakangan ini, marak sekali terjadi kasus bunuh diri. Ada yang berhasil diangkat oleh media sosial dan berita, namun tidak lepas kemungkinan banyak juga yang terjadi secara diam - diam tanpa pernah diekspos ke media. Banyak alasan yang melatarbelakangi, mulai dari faktor ekonomi, masalah keluarga hingga retaknya hubungan asmara. Tapi apapun itu alasannya, penulis di sini sama sekali tidak berniat untuk menginspirasi siapapun untuk melakukan tindakan konyol ini.


Bagi yang sudah terkubur di alam sana karena mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, hanya doa yang menyertai perjalanan kalian, tapi bagi kamu yang masih bertahan dalam masalahnya dan memilih untuk melanjutkan hidup, maka sepatah dua patah kata yang mungkin tidak berguna ini khusus buat kamu.

Ilustrated by AI berdasarkan kejadian baru - baru ini di jembatan Cangar.

Ya, ini terkhusus untuk kamu yang sempat berpikir bahwa bunuh diri itu adalah sebuah solusi untuk menyelesaikan semua masalah yang saat ini sedang memberati pundakmu. Bung, percayalah, kamu salah besar. Tidak peduli apapun dalih yang kamu pakai untuk membenarkan tindakan bunuh dirimu itu, nyatanya bunuh diri tak lebih hanyalah ilusi yang tercipta dari pikiranmu yang cepat dan tergesa - gesa. 

Namun jika kamu mau duduk sebentar, menarik nafas panjang, maka kamu akan menyadari kebenarannya bahwa sekali lagi, bunuh diri itu hanya ilusi, bukan sebuah solusi.

Sebab mau bagaimanapun cara kamu melakukannya: apakah dengan cara gantung diri, lompat dari suatu ketinggian, menyayat urat nadi, atau pergi menerabas palang kereta api lalu berdiri di tengah rel dan menunggu kereta menghantamu dengan keras, Tuhan mungkin akan mengabulkan permohonannmu, mencabut nyawa dari tubuhmu. Namun masalah - masalah yang kamu pikul selama ini akan tetap ada. Kamu memang akan mati, tapi tidak dengan masalah - masalahmu. 


Masalah - masalah itu tidak ikut terkubur bersama jasad yang telah ditinggalkan jiwamu ke dalam tanah. Justru masalah - masalah itu akan menjadi beban tambahan bagi siapa saja yang kamu tinggalkan: keluarga, teman, sahabat atau bahkan kekasihmu yang, _maaf, saya harus mengatakannya dengan jujur:_ montok dan sangat kenyal itu. Dan sampai di sini, saat kau melakukanya, kau tidak ada bedanya dengan para pecundang yang pergi tanpa berhasil menyelesaikan masalah - masalah yang sehaursnya mereka hadapi di dunia ini.


Tapi agar ini tidak tampak seperti retorika kosong tanpa tindakan nyata sebagaimana lazimnya para politisi elit negeri ini sering lakukan, maka mari kita buktikan argumen di atas. Mungkin tidak dengan data, tapi akan saya gambarkan lewat sebuah cerita. 


Anggap saja beban yang memberati pundakmu selama ini adalah faktor ekonomi.


Jadi suatu ketika, entah karena terdesak oleh suatu kebutuhan, kamu harus memberanikan diri untuk pergi meminjam uang pada rentenir berkedok koperasi. Uangnya dapat, tapi kau tahu, bunganya pasti sangat tidak wajar.


Alhasil, hari - harimu akhirnya berlalu dengan penuh tekanan, pikiranmu selalu memikirkan bagaimana caranya agar si Mas penagih utang berpipih tembem  yang motornya pastilah Revo Fit itu tidak marah karena kamu terlambat membayar. Apalagi kamu tahu, Mas  penagih ini bernyali besar sekali. 


Bahkan pernah suatu kali nyalinya terbukti besar saat kau saksikan dia menikung dengan sangat tajam di sebuah tikungan. Sebuah aksi gila yang bisa membuat Valentino Rossi takjub melongo karena itu adalah adegan tak masuk akal yang tidak pernah ada di kamus balapnya. Nah, rupa - rupanya hari itu si Mas penagih berambut gondrong ini sedang mengejar tagihan harian.


Singkat cerita, waktu berlalu begitu cepat. Hari berganti hari, dan minggu dan bulan, semuanya jadi tidak terasa. Dan ternyata kamu tidak lagi sanggup membayar utang - utangmu, bunganya terlampau tinggi dan pekerjaanmu juga sedang tersendat, jadi tidak ada pemasukan untuk membayar utang.


Hingga akhirnya tekanan semakin berat manakala yang datang ke rumahmu, bukan lagi si Mas penagih bermotor Revo Fit tempo hari, tapi tiga orang berbadan kekar, berwajah garang dengan janggot yang lebatnya minta ampun. Satu di antara mereka bahkan memiliki bola mata yang kalau melotot, seketika wajahnya menjadi mirip malakiat pencabut nyawa, bengis tak karuan. Mereka ini tidak lagi mengetuk dengan pelan atau memanggilmu dengan ramah, melainkan mendobrak pintu rumahmu dan memaksamu keluar untuk membayar utang - utangmu. Kalau kau tidak ada di sana, mereka akan menitipkan pesan dengan gaya mengancam kepada siapa saja yang ada di situ. Lewat dari besok tak kau bayar, rumahmu akan dibakar hingga rata dengan tanah.


Dan, pada posisi itulah keputusasaan mulai menghampirimu. Kau kehabisan waktu, tak punya pilihan, sementara bayang - bayang wajah garang dari para debt collector galak itu selalu muncul dalam benakmu. Kau memang menyesal telah meminjam, tapi itulah satu - satunya pilihan yang bisa kau ambil waktu itu.


Hingga akhirnya, pikiran menjadi buntu, dada terasa semakin sesak dan nafas berhembus secepat petir menyambar. Kau pun menangis sejadi - jadinya dan,,bumm,,,dalam keadaan terdesak, tepat di kamarmu yang sempit,  tiba - tiba roh jahat menyelinap masuk, membisikan sesuatu dengan desahan khas para penghuni neraka. Si jahat mengajakmu untuk lebih baik kau mati saja daripada menderita menanggung utang dengan Om - om penagihnya yang berkumis lebat dan bertampang ganas.


Dan alangkah cerobohnya, kau pun mengiyakan bisikan iblis itu, dan memutuskan untuk bunuh diri. Fatalnya, seolah semesta sedang berkonspirasi mewujudkan pemikiranmu yang dihasilkan dalam keadaan tekanan, tiba - tiba saja kau menemukan seutas tali di sana, sebuah tali yang biasa dipakai orang untuk menali kerbau atau sapi - sapi mereka di desa.


Hingga keesokan hari, betepa terkejutnya keluarga dan orang tuamu demi menyaksikan tubuhmu yang sudah membujur kaku, tergantung dengan ujung tali yang terikat mencekik di leher. Ujungnya yang satu terikat kuat pada sebuah balok yang entah bagaimana terlentang datar di bawah atap bagian dalam rumahmu yang belum berplafon itu.


Dan yaps, itulah dia, kau memang sudah mati, tapi tanpa engkau ketahui, bahkan keluargamu masih dalam keadaan berduka atas kehilanganmu yang mati gantung diri, para debt collector itu kembali mendatangi rumahmu. Bukan untuk melayat, bukan untuk berbelasungkawa dan menyampaikan duka. Tapi datang untuk mengingatkan keluargamu, bahwa kewajiban merekalah sekarang untuk melunasi utang - utang yang kau tinggalkan.

Dan begitulah, kau boleh mati bunuh diri dengan cara apapun yang kau suka, tapi jangan pernah berpikir bahwa masalah - masalah yang membuatmu mengambil keputusan untuk bunuh diri itu akan ikut mati lenyap bersamamu. Tidak, mereka --masalah - masalahmu itu justru akan menjadi beban pada orang yang berbeda, pada orang - orang yang kau cintai, yang kau tinggalkan dengan duka yang berlapis.

Tapi sampai di sini, kau mungkin akan menganggap bahwa saya egois, tidak memiliki empati.


Kau beralasan, bahwa orang lain tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya menjadi dirimu. Tidak tahu rasanya hidup melarat dalam tekanan ekonomi yang sangat hebat, hati yang hancur berkeping - keping, yang patah oleh sang kekasih yang memutus hubungan saat kau sedang sayang - sayangnya.


Atau mungkin kamu berpikir bahwa betapa orang lain tidak pernah tahu bagaimana geramnya perasaanmu melihat sikap ayah di rumah yang suka mabuk, memukul ibu dan membanting perabotan rumah tangga karena kalah di meja perjudian. But, Man!
You're not alone. Others might be dealing with the same thing as yours. Ya, di sisi lain dunia ini tentu ada orang - orang yang hidupnya tidak jauh berbeda dengan kamu.


Ada yang mungkin terlilit utang pinjol miliaran rupiah dan semua saudaranya diperingatkan oleh admin penyedia pinjolnya untuk segera melunasi utang - utangnya. Ada juga yang aneh bin ironis: patah hati pada malam pertama karena menyadari suatu kejanggalan pada istri barunya yang padahal selama pacaran mereka tidak pernah melakukan itu -- And i hope you got what i mean, haha.


Atau ada pula yang harus bergelut dengan waktu, dipaksa untuk tabah dan sabar menghadapi dosen pembimbing skripsi yang setiap kali minta pembimbingan, alasannya macam - macam: sedang sibuk, sedang meeting, sedang di jalan, sedang di pasar, di Mars atau mungkin jiwanya sudah di neraka. Padahal tanpa dia ketahui, mahasiswanya sudah kehabisan jawaban meladeni pertanyaan "kapan lulus" dari orang tuanya. Dan orang tuanya tak kuasa menahan malu meladeni pertanyaan dari tetangga, "kapan anaknya lulus?"

Atau,,,yang paling parah seperti saya yang setiap hari bertempur melawan lelah. Lelah bekerja tapi malam sampai di rumah malah dibuat tambah lelah. Bukan karena disuruh memijat istri montok seperti yang lain atau harus meninabobokan putri kecil yang susah tidur. Tapi dibuat semakin lelah karena mengutak - atik angka di buku catatan. Tapi walau sudah memakai segala rumus yang bisa dipakai, menekan pengeluaran setipis mungkin dengan berhemat sana - sini, berkompromi dengan ibu kos agar mau pembayaran kosnya dibayar pakai tenaga, tidak tergiur kemana - mana di malam minggu, tapi hasilnya tetap sama: tidak ada sisa di antara pemasukan dan pengeluaran. Ironis, kerjanya sendiri memakan waktu maksimal sampai 12 jam lebih sehari!!


Dan banyak lagi contoh orang dengan masalah - masalah yang mereka hadapi. Tapi mereka memilih untuk berdiri tegak menatap langit dan berkata kepada diri sendiri:

"Aku bisa menyelesaikan semua ini. Mungkin hari ini belum ada jalan yang terbuka, tapi jika aku memilih menyerah hari ini juga, artinya aku akan melewatkan kesempatan yang mungkin baru akan tiba besok. Hari ini pintu ditutup, siapa yang tahu persis besok akan tetap ditutup?"

Kau tahu? Sebagaimana hal lain di dunia ini yang tidak abadi, begitu juga dengan masalah - masalah yang kau hadapi. Kalau katanya group musik favorit saya, Fade2Black: Roda kehidupan itu pasti berputar, warna juga pasti akan memudar. Jadi mari resapi nikmat hidup dengan bersyukur.


Ya, mungkin itu terdengar dingin dan gelap bagi yang sedang dalam tekanan, tapi l
ebih dari itu semua, kawan, ceritalah jika kamu punya masalah! Kalau kau terkendala untuk ke psikolog (karena saya tahu itu mahal), maka berceritalah kepada siapa saja yang dapat kau percayai. Bisa ke teman, pacar, sahabat atau orang tua.


Kau mungkin tidak akan mendapat solusi pasti layaknya kalau kau bercerita ke psikolog, tapi siapa tahu kau akan mendapati temanmu yang menjadi tempat curhat itu juga terlilit masalah. Kau jadi tahu bahwa kau tak sendirian. Kalau dapat kau temui kebahagiaan pada mereka sementara di sisi lain kau tahu bahwa mereka juga ada dalam masalah sebagaimana dirimu, lantas kenapa kamu memilih jalan pintas untuk menjemput bola kematian lebih cepat? Sementara di saat yang sama teman - temanmu memilih tetap berjuang untuk terus hidup dengan masalahnya.


Sebab mungkin kau tidak sadar, bahwa kepada siapapun kau bercerita, disaat yang sama orang itu bisa saja sedang dalam masalah. Kalaupun tidak, mungkin besok atau di waktu yang akan datang, sebab tidak ada kehidupan yang tanpa masalah. Ya, kecuali kalau kau berceritanya kepada anak bungsu Donald Trump, karena doi itu sepertinya orang nir masalah, bapaknya punya semua yang dia butuhkan.


Tapi selama kita berbicara tentang manusia biasa yaitu mereka yang lalu - lalang di jalanan, yang nongkrong ria di mall,  atau yang santai menyeduh kopi di sudut - sudut kota yang pada wajah mereka kau temui seraut kebahagiaan, itu bukan karena mereka hidup tanpa beban dan tidak memiliki masalah. Tapi karena mereka mampu memecahkan masalah - masalah mereka, tetap bertahan meski lelah dan tidak berhenti berharap bahwa meski hari ini buntu, besok mungkin akan terbuka, terbuka untuk satu solusi, terbuka juga untuk masalah baru yang mungkin lebih berat.


Nah, setelah bercerita, kau bisa berdoa. Ini serius kawan, sebab bahkan jika kau adalah seorang ateis garis keras dengan argumen ketidakberadaan Tuhan yang paling sulit dibantah sekalipun, kau akan menyadari satu hal bahwa tetap ada suatu entitas maha kuat di luar kendali manusia dan kerja mekanis alam semesta. Hanya saja kau mungkin tidak menyebutnya Tuhan, tapi kau bisa berdoa kepadaNya.


Kau mungkin tak punya siapa - siapa di dunia ini. Tak punya apa yang seharusnya kau sebut keluarga, saudara, kekasih, teman, sahabat atau siapapun yang kau harapkan bisa membagikan kepada mereka beban yang kau pikul, bersama meringankan langkah yang kau pijak. Tapi meski begitu, kau tahu, kau masih memiliki Dia yang telah menghendakimu ada di dunia ini. Dia yang menghendakimu bertahan walau badai masalah datang bertubi - tubi. Sebab tanpa Dia, semua yang kau punya bukanlah apa - apa, tak punya arti, tak memberi makna. Hanya saja kau perlu untuk sedikit berendah hati mengakui bahwa kau dalam masalah dan bahwa kau sudah tidak kuat, kau butuh pertolonganNya.


Okeyy, jadi kau tak bisa bercerita sebab kau mungkin adalah sebuah anomali dalam kodrati manusia sebagai makhluk sosial. Kau tak punya pergaulan, teman dan sulit menjalin suatu hubungan. Kau adalah introvert garis keras dengan wilayah pergerakan hanya seputar ini: kamar, tempat kerja dan wc untuk mandi dan buang hajat. Kau pun enggan untuk bercerita kepada keluarga atau saudara karena bagimu mereka terlalu menyebalkan. Hari ini kau bercerita, besok sudah satu desa mengetahui masalahmu karena ternyata ibumu juga suka bergosip dengan motif ikut arisan di rumah tetangga. Rupanya, perkumpulan ibu - ibu itu diwarani dengan bergosip tentang masalah - masalah yang kau hadapi. Jadi kau enggan untuk bercerita.

Dan berdoa? Ahai,,,kau ternyata adalah seorang ateis sejati dengan idealisme yang paling agung. Setiap saran yang masuk agar kau berdoa, akan kau counter dengan argumen berkelas yang dilontarkan dengan cara seperti hujan anak panah yang turun dari langit: cepat, tajam dan mematikan. Tapi tentu, kau sampaikan itu semua hanya dalam hati, karena kau adalah introvert. Jadi kau pun tak akan pernah berdoa.

Lalu apa solusi dan harapan terakhir yang bisa disarankan untuk bisa menyelamatkanmu? 

Ah, saya ragu, tapi mungkin harus kau coba. Mungkin inilah saatnya bagimu untuk mulai menulis, menuliskan semua masalah - masalah hidupmu yang bergemuruh laksana guntur di dalam kepala. Sebab kau tahu, suara - suara riuh yang menyesakan hati dan merusak isi kepala itu bagaikan angin yang terisi dalam sebuah bola. Semakin tinggi tekanan angin yang terisi dalam bola, semakin besar potensi bola meledak. Semakin banyak suara - suara berisik di dalam kepala, semakin besar potensi seseorang menjadi stres. Maka tak ayal, menulis adalah suatu upaya mengeluarkan angin masalah dan beban pikiran yang ada di dalam kepala.


Tapi apapun solusi yang ditawarkan, intinya jangan pernah menyerah walau banyak masalah yang mengintai sebab terkadang bahagia itu bukan berarti hidup tanpa masalah dan tekanan. Tapi bahagia adalah ketika kau berhasil memecahkan satu per satu masalah - masalah yang memberati langkah dan membebani pundakmu tanpa pernah mengeluh.


Memang ada lelah yang mungkin ikut menyerta namun kau justru memilih tetap bertahan meski sebenarnya kau tahu: satu masalah hidup hari ini berhasil kau pecahkan, besok ia akan datang lagi, mungkin satu, dua, tiga atau malah lebih banyak lagi. Kenapa? Karena kau tahu, saat kau sudah memilih untuk tetap hidup dan bertahan, selama itu pula harapan akan selalu ada. Hanya saja kau tak boleh berhenti berharap.


Lagipula, tidakah kau berpikir bahwa kita yang hidup di dunia ini toh akan mati suatu saat nanti. Tapi sampai kematian itu datang dengan caranya yang paling alami, tugas kita yang sejati sebagai manusia adalah menyelesaikan masalah - masalah yang kita hadapi.


Maka bagaimanapun beratnya hidup, tetaplah bertahan dan teruslah berjuang. Kau boleh sesekali mengeluh, tapi kau tak boleh menyerah apalagi memutuskan untuk mengakhiri hidup. Selamat berjuang and God allways be with you!!

Posting Komentar untuk "Bunuh Diri Itu Adalah Ilusi, Bukan Sebuah Solusi"