Bisikan Lembut dari Desa untuk Sang Raja Kota Besar: Suatu Nyanyian Jiwa dari Raga - raga yang Tak Berdaya

Ada kalanya kita akan paham bahwa kaya ataupun miskin terkadang hanya soal rasa. Apa yang disini dianggap harta, disana mungkin tak lebih hanya seonggok sampah. Tapi kita dipaksa terima sebab zaman ini bergerak dalam sebuah narasi, dimana harta, tahta dan gaya adalah segalanya. 

Desa, pemandangan dan orang - orannya telah mengatakan itu, tapi kita toh selalu mendambakan kehidupan kota sebab kita telah sepakat bahwa harta memang harus sesuai versi mereka yang disana, gaya memang harus seperti itu dan pengakuan adalah hal yang tak boleh terelakan. 

Pemandangan desa selalu lebih indah dari harta di kota, sebab harta itu selamanya hanya akan jadi angan - angan dalam tubuh yang semakin kesakitan. Kota tak selamanya seindah yang kamu bayangkan.

Tapi tragis, di sinilah kita sekarang, dalam upaya pengejaran harta, penyesuaian gaya dan upaya pemenuhan akan kehausan kita terhadap validasi. Kita terjebak, asing dan tak jarang jadi mangsa dan sesekali jadi korban kota besar. Ya, kota besar dalam segala wujudnya yang kerap kita anggap bak seorang raja yang mungkin akan menganugrahkan segala yang kita inginkan. Tapi kita terlena, ia memang raja --raja dengan palu dan senjatanya yang serba bisa, yang bisa melempar dan memojokan kita ke sudut - sudut sempit yang bahkan tak memberikan kita kesempatan bernafas sekalipun dan berkata: "bukan ini yang aku inginkan." Tapi sang raja keburu berpaling lalu pergi, tak peduli. Ia puas! Puas dengan yang telah dilakukannya!

Baginya harta, tahta dan gaya memang adalah segalanya, maka tak perlu ada tempat untuk keperibadian, karakter dan sopan santun. Sesama manusia, bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang berharga sebagaimana ia adanya. Tapi tak lebih dari sekedar musuh yang harus dikalahkan dalam kompetisi, secuil kotoran di ujung kuku yang harus disingkirkan dalam persaingan dan ia harus diasingkan kalau sudah tak berdaya apalagi mengganggu. Juga tak lebih dari sekedar objek dalam mencapai klimaks, hasrat dan gairah --gairah sebagaimana yang dimiliki para raja zaman purba dengan ujung tombak yang selalu meronta - ronta, yang bisa menembus apa saja, tak peduli yang rusak adalah seorang insan manusia. Tapi ironis, kita semua mendambakan sang raja, membentangkan karpet merah dan mempersilahkannya masuk. Bersujud lalu mengangkat topi untuk kemegahannya, sebuah kemegahan semu yang didapat setelah melibas sesama. 

Ah, manusia tidak benar - benar berevolusi secara sempurna. Jiwa dan pikirannya masih tertinggal di ujung zaman prasejarah. 

Maka dari itu kawan (dan mungkin nona), ketika kota besar sudah membuat jiwamu lelah dan hatimu terluka, pulanglah! Ini mungkin bukan solusi terbaik, tapi kau harus paham bahwa desa mungkin tidak akan membuatmu kaya, tapi juga tidak membuat tubuhmu terluka dan jiwamu menderita. Apakah yang kau bawa adalah harta atau hanya sekedar jiwa yang terluka, mereka tidak peduli --satu bentuk ketidakpedulian yang berbeda dari sang raja di kota besar. Keluarga dan orang desa selalu memiliki sesuatu yang tidak akan tergantikan dengan uang atau harta, itu adalah canda tawa dan senyum sumringah yang tak kenal kondisi --beras habis, atau kentong yang masih terisi penuh.

Dan sampai disini, kau akan mengatakan bahwa aku sudah gila, dan kau benar. Aku memang sudah gila tapi aku bangga. Sebab semakin kesini Don Quixote semakin menampakan kebenarannya bahwa:

Terkadang menjadi waras dalam pikiran meski harus dianggap gila oleh kenyataan, sedikit lebih baik daripada harus dianggap waras tapi sebenarnya adalah satu bentuk kegilaan yang paling gila. 

Tubuh yang mati, mati wariskan cula. Jiwa yang lama? Pergi menuju teras Valhalla, begitu katanya. Maka wahai jiwa dan raga, bersatulah agar tak selamanya kau tak berdaya. Bersatulah...!!!(Bersatulah...!!!)

Posting Komentar untuk "Bisikan Lembut dari Desa untuk Sang Raja Kota Besar: Suatu Nyanyian Jiwa dari Raga - raga yang Tak Berdaya"