Petualangan Don Quixote dan Upaya Menanyakan Kembali Keteguhan Prinsip dan Keyakinan Hidup yang Telah Lama Dipegang

1. Sinopsis Singkat dan Intrpretasi Pribadi

Petualangan Don Quixote atau Don Quixote de la Mancha adalah sebuah novel karya Miguel de Cervantes (1615) yang mengisahkan tentang seorang pria separuh abad bernama Alonso Quixiano. Di dalam pikirannya, ia membayangkan dunia pada saat itu sedang dalam keadaan kacau balau: kekejaman terjadi di mana - mana, penindasan atas yang lemah begitu lumrah, ketidakadilan menjadi pemandangan normal dan berbagai bentuk kenjanggalan yang lain, yang ia tata begitu rapi dalam pikirannya sendiri. 

Maka untuk menuntaskan masalah - masalah itu, ide - ide dan gagasan luar biasa mulai tercetus dengan indah dalam benaknya. Ia lalu membayangkan dirinya sebagai seorang kesatria yang sedang dibutuhkan dengan sangat oleh dunia dalam rangka membereskan masalah - masalah yang ada. Lalu sekonyong - konyong, ia memberi nama sosok kesatria imajinernya itu Don Quixote. Dan dengan segala persiapan serta rencana, mulailah ia berkelana ke seluruh dunia untuk menumpas semua bentuk kejahatan, membela yang lemah dan menegakan keadilan.

Tapi kita semua tahu, segala hal yang ia bayangkan adalah interpretasinya sendiri terhadap dunia (untuk tidak mengatakan sebagai imajinasi belaka yang dipengaruhi oleh buku - buku aneh yang pernah ia baca di rumahnya). Maka tak heran, dari kincir angin yang ditemuinya selama pengembaraan yang ia anggap sebagai komplotan para raksasa jahat, hingga gerombolan domba yang ia yakini sebagai dua pasukan kerajaan yang sedang bertempur serta semua petulangan lain dengan misi agung yang ia bawa, tak lebih adalah satu bentuk lelucon yang mengundang gelak tawa orang - orang di sekitar.

Para kerabat dan keluarga tentu sangat merisaukan nasib buruk dan kegilaan yang dialami pria naas ini. Dan dengan segala cara, akhirnya mereka berhasil membawanya pulang ke desa asalnya, meninggalkan dunia pengembaraan serta ide - ide liar yang mempengaruhi pikirannya. 

Hingga pada akhirnya ia meninggal dunia dalam keadaan kembali sadar sebagai Alonso Quixiano asli. Selain keluarga dan kerabat yang memaklumi keadaanya yang demikian itu, orang - orang mengenangnya sebagai orang gila dengan gagasan - gagasan yang aneh dan konyol.

2. Refleksi: Mempertanyakan Kembali Keteguhan Prinsip dan Keyakinan Hidup.

Setiap dari kita pasti memiliki satu prinsip atau keyakinan tertentu sebagai kerangka kehidupan yang kita jalani. Saya pribadi misalnya, memiliki satu prinsip kecil dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Saya tidak akan datang ke suatu acara atau pesta kalau saya tidak diundang. Tidak bermaksud berlagak seperti raja yang harus diundang secara istimewah, atau merasa diri sebagai orang penting yang harus mengatur waktu dan jadwal terlebih dahulu. Tapi satu pertanyaan akan memberatkan langkah saya untuk berangkat: di mana saya akan duduk sampai di sana. Atau, apa kata tuan rumah yang merasa aneh dengan kehadiran saya? 

Maka dari itu, saya memutuskan untuk memegang teguh prinsip itu. Bahkan jika acara itu adalah milik keluarga atau kerabat dekat, saya tidak akan datang kalau tidak diundang. Apalagi kalau sebatas acara milik tetangga.

Selain berperinsip seperti itu, saya juga kadang meyakini beberapa hal. Misalnya: bagi saya, jujur dan bersifat terbuka itu adalah suatu hal yang baik dan harus diterapkan dalam segala situasi, meski untuk yang ini saya kadang melanggarnya sendiri. 

Saya juga merasa alangkah baik kalau mengutamakan kepentingan orang lain dan sesama sebelum diri sendiri. (Dan yang ini, mungkin karena saya dulu pernah ikut kegiatan Bible Teens Day saat masih remaja dengan tema yang diangkat: Jesus first, Other next, You the last. Jadi mungkin terbawa terus hingga kini. Dan sungguh, suatu prinsip yang kadang saya rasa konyol juga untuk selalu dipegang terus sepanjang hidup.

Dan yaps. Dari kekonyolan akhirnya berujung juga pada selaksa derita dan kesendirian.

Hanya karena menjalani hidup dengan prinsip dan beberapa keyakinan yang saya anggap baik dan benar, orang lain justru mulai menjaga jarak. Ada yang bahkan membenci, menganggap lebay atau bahkan sampai menertawakan dan mengolok - olok. Tak jarang pula, saya malah jadi korban dari prinsip hidup dan keyakinan yang saya pegang sendiri.

Menghadapi kenyataan hidup yang pahit itu, saya mulai mempertanyakan ulang kehidupan yang saya jalani beserta jajaran prinsip dan keyakinan yang saya pegang dengan bangga selama ini. Bukan untuk mencari tahu benar atau salah, tapi untuk memastikan itu akan tetap dipertahankan atau tidak selama menjalani hidup ke depan. 

Saya bertanya: kenapa prinsip dan keyakinan hidup saya justru membawa saya pada pengalaman dibenci, ditolak, dihindari? Kenapa ada orang yang menganggapnya aneh dan konyol? Apakah sebaiknya saya keluar saja dari narasi hidup yang menggerakan saya selama ini lalu melebur diri dengan narasi hidup orang lain? Sebab jangan - jangan mereka benar, saya yang salah. Atau sebaliknya? Ah, tapi saya ragu!

Hingga dalam upaya menjawab segala keraguan dan kegamangan hidup dengan rentetan pertanyaan yang menyertainya itu, saya lalu dibawa pada cerita Don Quixote ini dan saya sadar: bahwa dalam hidup, akan selalu ada saat kita goyah dengan keyakinan dan prinsip yang kita pegang. Entah karena kita dibenci, ditertawakan atau bahkan diolok - olok atas hal - hal yang kita yakini.  

Tapi itu tidak lantas membuat kita harus memvonis diri bahwa kita salah. Bahwa mungkin orang lain yang benar, jadi sudah saatnya untuk meninggalkan keyakinan yang kita pegang, pergi dan menjalani hidup dengan prinsip dan keyakinan hidup orang lain. Hal itu justru hanya akan menjadi kekonyolan baru dalam hidup kita.

Dari kisah Petulangan Don Quixote saya sadar bahwa terkadang, hidup bukan selamanya tentang prinsip dan keyakinan siapa yang paling benar. Bukan tentang cara hidup siapa yang paling baik. Tapi juga tentang siapa yang mampu berdiri teguh dengan prinsip dan keyakinan yang ia pegang bahkan ketika hal itu membawanya pada selaksa nelangsa dan penderitaan.

Hampir semua petualangan yang dialami Don Quixote, selalu berakhir dengan kesengsaraan: dipukuli, dilempari batu, diolok - olok dan ditertawakan. Tapi dia tetap teguh dengan apa yang dia yakini. Hingga pada akhir cerita, novel lalu ditutup dengan sepenggal kalimat yang sangat menohok:
Bahkan saat imajinasi merasuk ke dalam kegilaan - kegilaan tindakan liarnya, dia tetap menjaga citra baik tindakannya. Orang yang menetawakannya sebagian besar karena tak bisa berbuat apa - apa untuk mencintainya.
Maka jika suatu saat kamu mendapati dirimu dibenci, ditertawakan dan diolok - olok oleh karena prinsip dan keyakinan hidup yang kamu pegang, ingatlah kisah Don Quixote. Itu bukan berarti kamu salah dengan hal - hal yang kamu yakini, tapi mungkin saja orang lain yang masih belum tahu bagaimana caranya mencintaimu. Jadi kamu butuh sedikit kesabaran, sambil terus belajar dan bertumbuh. Dan dalam proses itulah kamu akan tahu apa artinya hidup dan saling memahami.

  
Catatan:
Karena ini adalah essay bertajuk refleksi dan review, maka saya perlu menambahkan sedikit informasi buku teruntuk versi yang diulas di atas.

Judul: Petualangan Don Quixote
Pengarang: Miguel de Cervantes (1615)
Penerjemah: Muajib
Penerbit: Immortal Publishing Cetakan ke XII tahun 2025
Tebal: 124 halaman

Kelebihan dan kekurangan? Hemm, kapasitas saya belum sampai ke situ, hehe. Jadi kamu bisa cari referensi lain untuk menambah informasi yang dibutuhkan. Terima kasih.







Posting Komentar untuk "Petualangan Don Quixote dan Upaya Menanyakan Kembali Keteguhan Prinsip dan Keyakinan Hidup yang Telah Lama Dipegang"